Selasa, 08 Juli 2014

Makalah Kep Jiwa Halusinasi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.Bentukhalusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang palingsering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna.Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yangdialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengansuara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar ataubicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnyabergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiaptubuh atau diluar tubuhnya.Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnyabersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

Persepsimerupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus esksternal,juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterpretasikan olehstimulus yang diterima.Jika diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuanuntuk menilai realita dapat terganggu.Persepsi mengacu pada respon reseptorsensoris terhadap stimulus. Persepsi juga melibatkan kognitif dan pengertianemosional akan objek yang dirasakan. Gangguan persepsi dapat terjadi pada prosessensori penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan.

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yangberhubungan dengan penggunaan alcohol dan substansi lingkungan.Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien di rumah sakit jiwa Marzoeki Mahdi Bogor ditemukan ……% pasien dengan kasus halusinasi.

Sehingga penulis merasa tertarik untuk menuliskasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampaidengan evaluasi.


B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
…………………………………………..
2.      Tujuan Khusus
Diharapkan mampu :
a.       Menjelaskan pengertian halusinasi
b.      Menyebutkan 5 dari 7 jenis halusinasi
c.       Menyebutkan 3 dari 4 etiologi halusinasi
d.      Menyebutkan 2 dari 3 mekanisme koping
e.       ………………………………

C.    Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup masalah ini yaitu penulis membatasi hanya pada Asuhan Keperawatan pada Ny. …. dengan Halusinasi yang dilakukan selama 4x pertemuan di ruang Utari Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi sejak tanggal 13 Mei sampai tanggal 16 Mei 2014.

D.    Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang bersifat mengumpulkan data, menganalisa dan menarik kesimpulan yang disajikan dalam bentuk naratif.
Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.      Studi Kepustakaan, yaitu mengumpulkan beberapa referensi dari buku-buku yang berhubungan dengan Tuberkulosis Paru.
2.      Studi dokumentasi, yaitu mempelajari catatan keperawatan dan medis pada status klien.
3.      Wawancara, yaitu secara langsung dengan klien maupun keluarga.
4.      Observasi, yaitu pengamatan pada klien secara langsung.
5.      Pemeriksaan fisik pada klien meliputi: inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.



E.     Sistemstika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 5 bab sebagai berikut: BAB I Pendahuluan terdiri dari: latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan,  dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan Teori Meliputi: pengertian, jenis halusinasi, etiologi, mekanisme koping, manifestasi klinis, rentang respon halusinasi, pohon masalah, masalah keperawatan, data yang perlu dikaji, rencana tindakan keperawatan. BAB III :  Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian Keperawatan (..................), ................. BAB IV : Pembahasan Terdiri dari: .............. BAB V :  Penutup Terdiri dari Kesimpulan Dan Saran.
















BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian
Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsangan sampai rangsangan itu didasari dan dimengerti oleh pengindraan atau sensasi: proses penerimaan rangsangan (stuart, 2007)
Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara itu. (Hawari, 2005)
     
Halusinasi adalah sensori panca indra tanpa adanya rangsangan klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indra tersebut. (Izzudin, 2005)

B.     Jenis Halusinasi (Stuart, 2007)
1.      Pendengaran
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang apapun. (Maramis, 2005)
2.      Penglihatan
Stimulus visual adalah dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, baying yang rumit atau kompleks.
3.      Penghidu
Membaui bau tertentu seperti bau darah, urine dan feses, umumnya bau yag tidak enak.
4.      Pengecap
Merasa mengecap seperti manis, asin, pedas dan lain-lain.
5.      Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
6.      Cenestetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine.
7.      Kinestetik
Merasakan pergerakan sementara terdiri tanpa bergerak.

C.    Etiologi
Menurut Stuart, 2007
1.      Biologis
Abnormalitas perkembangan sitem syaraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaftif baru mulai dipaham.
2.      Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respond an kondisi fisikologis klien.
3.      Social budaya
Mempengaruhi gangguan orientasi realita, seperti :kemiskinan, konflik social budaya ( perang,kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi dan disertai strees.
4.      Presipitasi
Secara umum gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna., putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stersor dan masalah masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006)

D.    Mekanisme Koping
1.      Regresi :menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2.      Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab keorang lain.
3.      Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik stimulus internal.
(Struat, 2007)




E.     Manifestasi Klinis
1.      Berbicara sendiri
2.      Senyum sendiri
3.      Tertawa sendiri
4.      Menggerakan bibir tanpa suara
5.      Pergerkan mata yang cepat
6.      Respon verbal lambat
7.      Menarik diri dari orang lain
8.      Tidak dapat membedakan nyata dengan yangtidak  nyata
9.      Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah
10.  Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.
11.  Bekonsentrasi dengan pengalaman sensori
12.  Sulit berhubungan dengan orang lain
13.  Ekpresi muka tegang
14.  Mudah tersinggung, jengkel dan marah
15.  Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat
16.  Tampak tremor dan berkeringat
17.  Prilaku panik
18.  Agitasi dan kataton
19.  Curiga dan bermusuhan
20.  Bertindak merusak diri ,orang lain dan lingkungan
21.  Ketakutan
22.  Tidak dapat mengurus sendiri
23.  biasa terdapat disorientasi :waktu, tempat dan orang
(Hamid, 2000)






F.     Rentang Respon Halusinasi
Adaptif

Maladaptif
·         Pikiran logis
·         Persepsi kuat
·         Emosi konsisten dengan pengalaman
·         Perilaku sesuai
·         Hubungan sosial
·         Perilaku kadang menyimpangan
·         Ilusi
·         Reaksi berlebih atau kuarang
·         Perilaku ganjil
·         Menarik diri
·         Delusi
·         Halusinasi
·         Kerusakan proses emosi
·         Perilaku tidak terorganiser
·         Isolasi sosial

G.    Pohon Masalah
Resiko Perilaku Kekerasan

Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

Isolasi Sosial

H.    Masalah Keperawatan
1.      Gangguan Sensori Persepsi : halusinasi
2.      Resiko Perilaku Kekerasan
3.      Isolasi Sosial

I.       Data yang Perlu Dikaji
1.      Gangguan Sensori Persepsi
Data subyektif :
a.       Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan degan stimulus nyata
b.      Klien mengatakan melihat gamabaran tanpa stimulus yang nyata
c.       Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d.      Klien merasa makan sesuatu
e.       Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f.       Klien takut pada suara atau bunyi , gamabar yang dilihat dan didengar
g.      Klien ingin memukul atau melempar barang-barang
Data Obyektif
a.       Klien berbicara dan tertawa sendiri
b.      Klien bersikap seperti mendengar atau melihat sesuatu
c.       Klien berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
d.      Diorientasi
2.      Resiko Peilaku Kekerasan
Data Subyektif
a.       Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-ngacak lingkunganya.
Data Obyektif
a.       Klien Nampak mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.

3.      Isolasi Sosial
Data Subyektif
a.       Klien mengatakan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi
b.      Klien mengatakan enggan berbicara dengan orang lain
c.       Klien mengatakan malu bertemu dan berhdapan dengan orang lain
Data Obyektif
a.       Klien terlihat lebih suka sendiri
b.      Klien terlihat bingung bila disuruh memilih alternative tindakan
c.       Klien terlihat ingin mencederai diri dan tidak ingin hidup lagi.

J.   Rencana Tindakan  Keperawatan
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi
Tujuan Umum: klien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya.
1.      TUK 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:
a.       Ekspresi wajah bersahabat
b.      Menunjukan rasa senang
c.       Ada kontak mata
d.      Mau berjabat tangan
e.       Mau menjawab salam
f.       Mau duduk berdampingan dengan perawat
g.      Bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi
Tindakan keperawatan :
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
a.       Sapa klien dengan ramah baik verbal/ non verbal.
b.      Perkenalkan nama, nama panggilan, dan tujuan perawat berkenalan.
c.       Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang klien sukai.
d.      Buat kontrak yang jelas
e.       Tunjukan sikap jujur dan menempati janji setiap kali interaksi
f.       Tunjukkan sikap empati menerima apa adanya.
g.      Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar manusia.
h.      Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
i.        Dengarkan penuh perhatian ekspresi perasaan klien
Rasional : pembinaan hubungan saling percaya merupakan dasar terjadinya komunikasi
terapeutik.

2.      TUK 2 :
Klien dapat mengenal halusinasinya
Kriteria Hasil :
Setelah 2x interaksi klien menyebutkan :
a.       Isi
b.      Waktu
c.       Frekuensi
d.      Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi
Tindakan keperawatan :
a.       Adakan kontak serig dan singkat secara bertahap
b.      Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya
(dengar/lihat/penghidung/raba/kecap)
Jika menemukan klien yang sedang halusinasi :
1)      Tanyakan apakah klien mengalami sesuatu
2)      Jika klien menjawab ya, tanyakan apa yang sedang dialaminya
3)      Katakana pada klien bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh)
4)      Katakana bahwa ada klien lain yang mengalami hal tersebut
5)      Katakana bahwa perawat akan membantu klien, jika klien tidak sedang berhalusinasi ( klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi) pagi, siang, sore, atau malam hari, sering/ kadang-kadang)
6)      Situasi dan kondisi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi
Rasional :  pemahaman klien dalam mengenal halusinasi akan membantu klien untuk mengenal gejala sehingga dapat mengendalikan kondisi dirinya pada saat timbul halusinasi. Identifikasi perilaku yang bermasalah membantu klien dan perawatan mencapai perubahan yang diinginkan.

Kriteria Hasil :
Setelah 2x interaksi klien mengatakan perasaan dan responnya saat mengalami halusinasi : marah, takut, sedih, senang, cemas, jengkel.
Tindakan keperawatan :
1)      Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaanya
2)      Diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut
3)      Diskusikan tentang dampak yang akan dialaminya bila klien menikmati halusinasinya


3.      TUK 3 :
Klien dapat mengontrol halusinasinya
Kriteria Hasil :
Setelah 2x interaksi :
a.       Klien menyebutkan tidakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalika halusinasinya.
b.      Klien menyebutkan cara baru mengontrol halusinasi .
c.       Klien dapat memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasi (dengar/melihat/penghidu/raba/kecap)
d.      Klien melaksanaakan cara yang telah memilih untuk mengendalikan halusinasinya
e.       Klien mengikuti terapi aktifitas kelompok (TAK)
Tindakan keperawatan :
a.       Identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri, dan lain-lain)
b.      Diskusikan cara yang digunakan klien
1)      Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian
2)      Jika cara yang digunakan maladaptive diskusikan cara tersebut
c.       Diskusikan cara baru untuk memutus atau mengontrol halusinasi :
1)      Katakana pada diri sendiri bahwa ini tidak nyata
2)      Menemui orang lain untuk menceritakan tentang halusinasinya
3)      Membuat dan melaksanakan jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun
4)      Meminta keluarga/teman/perawat menyapa jika sedang butuh halusinasi
d.      Bantu klien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya
e.       Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih
f.       Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil berikan pujian
g.      Anjurkan klien mengikuti aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi
Rasional :
a.       Indentifikasi tindakan yang dilakukan membina klien dan perawat menimbulkan alternatif tindakan
b.      Reinforcement positif akan menaikkan harga diri dan mendukung perilaku klien yang diharapkan
c.       Memberikan dukungan kepada klien untuk dapat mengendalikan situasi sendiri secara bertahap dalam menghadapi halusinasi
d.      Kesempatan yang diberikan oleh klien memilih cara yang dilatih
e.       Meminimalkan atau memutuskan kontak klien dengan halusinasinya
f.       Peran serta keluarga maupun umpan balik yang berupa dukungan positif terhadap klien saat mengalami halusinasi
g.      Peningkatan pengetahuan keluarga akan menjadi/membuat keluarga dapat melakukan tindakan alternatif agar klien dapat kembali ke dunia realita

TUK 4 :
Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusiansinya
Kriteria Hasil :
Setelah 2x pertemuan
a.       Keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat
b.      Keluarga menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, proses terjadinya halusiansi, dan tindakan untuk mengendalikan halusiansi
Tindakan Keperawatan :
a.       Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan
b.      Dskusinya dengan keluarga :
1)      Pengertian halusiansi
2)      Tanda dan gejala halusinasi
3)      Proses terjadinya halusinasi
4)      Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutuskan  halusisnasi
5)      Obat-obatan halusinasi
6)      Cara merawat anggota keluarga yang halusiasi
7)      Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah
8)      Beri informasi waktu control ke rumah sakit dan bagaimana memberi bantuan jika halusiansi tidak dapat diatasi di rumah



5.      TUK 5 :
Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
Kriteria Hasil :
Setelah 2x interaksi klien menyebutkan :
a.       Manfaat minum obat
b.      Kerugian tidak minum obat
c.       Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat
d.      Klien mendemostrasikan penggunaan obat dengan benar
e.       Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter
Tindakan Keperawatan :
a.       Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tiadk minum obat, nama, warna, dosis, warna efek terapi dan efek samping penggunaan obat
b.      Pandu klien saat penggunaan obat
c.       Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
d.      Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan obat
e.       Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
Rasional :
Dengan mengetahui dosis, frekuensi dan manfaat obat klien dan keluarga dapat melakasanakan program dengan benar.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar