Selasa, 08 Juli 2014

askep tb paru

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. R DENGAN
 TUBERCULOSIS PARU DI LANTAI V BARAT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BUDI ASIH

Description: Description: D:\Data\Kuliah\AHT Logo.png



Disusun Oleh:
Nilasari Sidik
11048



AKADEMI  KEPERAWATAN HANG TUAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2013/2014





KATA PENGANTAR

Dengan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. R dengan Tuberculosis Paru di Lantai V Barat RSUD Budi Asih” selesai tepat pada waktunya.

Dalam penulis makalah ini penulis banyak menemukan hambatan namun berkat adanya bimbingan dan arahan akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.        Direktur Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta, Kolonel Laut (K/W) Rita Wismajuwani, SKM, MAP
2.        Pudir I Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta, Ns.Yana Setiawan, SKM, S.Kep., selaku pembimbing makalah dan penguji.
3.        Kepala ruangan Lantai V Barat RSUD Budi Asih sekaligus penguji II, Ns. Erni Sebayang, S. Kep.
4.        Dosen beserta staf Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta yang telah memberikan bimbingannya.
5.        Kedua orang tua dan keluarga besar yang senantiasa memberikan dukungan material maupun spiritual.
6.        Seluruh Mahasiswa/I Angkatan XV dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini berguna bagi penulis dan pembaca pada umumnya serta dapat menjadi bahan acuan yang bermanfaat di kemudian hari.
Jakarta,     Mei 2014

                                                                                                                 Penulis
DAFTAR ISI






























BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu unsur dasar kesejahteraan keluarga. Dalam memperbaiki tingkat sosial ekonomi masyarakat, kesehatan keluarga merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, karena keluarga sehat akan menghasilkan anak-anak yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas. Keluarga merupakan suatu unit terkecil dari masyarakat, teridiri dari kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul tinggal dalam suatu rumah tangga karena ikatan darah perkawinan atau adipsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunya masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadapa anggota keluarga lain, dan keluarga yang ada di sekitarnya, termasuk salah satu penyakit yang mengancam kesehatan keluarga adalah penyakit TB Paru. (Komang Ayu Henny, 2010 hal: 2)

Tuberkulosis paru masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kemiskinan, malnutrisi, gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan lain-lain. Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan berulang kali, artinya walaupun seorang sudah pernah menderita tuberkulosis paru, orang tersebut tidak kebal padanya dan mungkin akan terserang lagi terutama apabila daya tahan tubuhnya lemah.

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberkulosis dengan gejala bervariasi. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangan kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menyerang organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia. Tempat masuk kuman ini adalah melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi TB Paru melalui udara yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terindeksi. (Amin, 2006)

Menurut WHO (2005), secara global terdapat 8,9 juta kasus TB dan kira-kira 1,6 juta atau 27 per 100 ribu orang meninggal karena penyakit TB. Jika penyakit TB ini tidak diobati, setiap penderita TB aktif akan menularkan ke 10 orang per tahun. (http/www .wikipedia.or.id, diperoleh tanggal 17 Mei 2011). Di Indonesia, TBC merupakan masalah kesehatan baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Penduduk lebih dari 200 juta orang, Indonesia adalah negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110/100.000 penduduk. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24% dari jumlah penduduk (http// Wikipedia.or.id. diperoleh tanggal 17 Mei 2011)

Tuberkulosis paru merupakan masalah kesehatan yang akan menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan mendapatkan pengobatan dan pencegahan penularan. Penyakit TB Paru apabila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi dini yang membahayakan seperti pleuritis, efusi pleura, emfisema, laryngitis sampai menjalar ke organ lain seperti usus, tulang dan otak. Komplikasi lanjut seperti obstruksi jalan napas, kerusakan parenkim berat, amyloidosis, kanker paru dan sindrom gagal napas dewasa. Untuk mencegah komplikasi tersebut maka dibutuhkan peran dan fungsi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dengan benar meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang akan dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan pendeketan proses keperawatan, antara lain dengan memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan status kesehatan klien, memeriksakan kondisi secara dini, memberikan obat anti mikroba sesuai dengan jangka waktu tertentu untuk mrngobati penyebab dasar dan dalam perawatan diri klien secara optimal sehingga muncul pentingnya asuhan keperawatan dalam menanggulangi klien dengan tuberkulosis paru yang dirawat di ruang Lantai V Barat, RSUD Budi Asih.

Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk memilih judul makalah ilmiah “Asuhan Keperawatan pada klien Tn. R dengan Tuberkulosis Paru di Lantai V Barat RSUD Budi Asih”.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis Paru pada klien dan keluarga dengan pendekatan proses keperawatan yang komprehensif meliputi aspek biologis, psikologis, social dan spiritual yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan.
2.      Tujuan Khusus
Diharapkan mampu :
a.       Melakukan pengkajian pada klien dengan Tuberkulosis Paru
b.      Menentukan masalah keperawatan pada klien dengan Tuberkulosisi Paru
c.       Merencanakan tindakan keperawatan klien dengan Tuberkulosis Paru
d.      Melaksanakan tindakan keperawatan klien dengan Tuberkulosis Paru
e.       Melakukan evaluasi keperawatan klien dengan Tuberkulosis Paru
f.       Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat anatara teori dan kasus pada klien dengan Tuberkulosis Paru
g.      Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat serta mencari solusi/alternative pemecahan masalah yang terjadi pada klien dengan Tuberkulosis Paru
h.      Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien dengan Tuberkulosis Paru

C.    Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup masalah ini yaitu penulis membatasi hanya pada Asuhan Keperawatan pada Tn. R dengan Tuberkulosis Paru yang dilakukan selama 3 X 24 jam di ruang perawatan Lantai V RSUD Budi Asih sejak tanggal 5 Mei sampai tanggal 8 Mei 2014.


D.    Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang bersifat mengumpulkan data, menganalisa dan menarik kesimpulan yang disajikan dalam bentuk naratif.
Adapun teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.      Studi Kepustakaan, yaitu mengumpulkan beberapa referensi dari buku-buku yang berhubungan dengan Tuberkulosis Paru.
2.      Studi dokumentasi, yaitu mempelajari catatan keperawatan dan medis pada status klien.
3.      Wawancara, yaitu secara langsung dengan klien maupun keluarga.
4.      Observasi, yaitu pengamatan pada klien secara langsung.
5.      Pemeriksaan fisik pada klien meliputi: inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

E.     Sistemstika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 5 bab sebagai berikut: BAB I Pendahuluan terdiri dari: latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan,  dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan Teori Meliputi: pengertian, anaan keperawatan, evalusi keperawatan. BAB III :  Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian Keperawatan (data dasar, resume kasus, data fokus, analisa data), Diagnosa keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi Keperawatan. BAB IV : Pembahasan Terdiri dari: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. BAB V :  Penutup Terdiri dari Kesimpulan Dan Saran.










BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Kuman batang tahan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen, tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 μm, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah. (Sylvia A. Price & Wilson, 2006)

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Arief Mansjoer, dkk., 2002)

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. (Smeltzer & Bare, 2002)

B.     Etiologi
Penyebabnya adalah kuman mikroorganisme yaitu basil Mycobacterium tuberkulosis tipe humanus dengan ukuran panjang 1 – 4 μm dan tebal 1,3 – 0,5 μm, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid).

Tuberkulosis ini ditularkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui udara. Individu yag terinfeksi melalui bicara, batuk, bersin, melepaskan droplet besar (lebih besar dari 100 μ) dan kecil (1 – 5 μ) droplet yang besar menetap, sementara droplet yang kecil tertahan di udara dan terhirup oleh individu yang rentan.





C.    Patofisiologi
Tempat masuk kuman M. tuberkulosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mendukung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang-orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi bovin, yang penyebarannya melalui sisi yang terkontaminasi. Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya limfosit T) adalah sel imunosupresif. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas. Pada waktu batuk dan bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet atau percikan dahak. Droplet yang mengandung mikrobakterium tuberkulosis dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam. Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Setelah mikrobakterium masuk ke dalam pernapasan, masuk ke alveoli tempat dimana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik melalui system limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri) dan area paru-paru lainnya. (Sylvia A. Price dan Wilson, 2006)














Patoflow






























D.    Manifestasi Klinis
Menurut  Jhon Crofton (2002) :
1.      Batuk lebih dari 3 minggu
Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru.
2.      Dahak
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan.
3.      Batuk berdarah
Batuk berdarah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada pembuluh darah paru dan bronkus sehingga pecahnya pembuluh darah.
4.      Sesak napas
Merupakan proses lanjut akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.
5.      Nyeri dada
Dimana terjadi gesekan pada dinding pleura dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
6.      Wheezing
Terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh secret, peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.
7.      Demam dan menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses infeksi.
8.      Penurunan berat badan
Penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakang dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
9.      Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
10.  Berkeringat banyak terutama di malam hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses setelah lanjut.
E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan Laboratorium
a.       Kultur sputum : positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit.
b.      Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : positif untuk basil asam-cepat.
c.       Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
d.      Anemia bila penyakit berjalan menahun.
e.       Leukosit ringan dengan predominasi limfosit.
f.       LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan.
g.      GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi berat dan sisa kerusakan paru.
h.      Biopsy jarum pada jaringan paru : positif untuk granulosa TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
i.        Elektrolit : dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
2.      Pemeriksaan Radiologis
Foto thoraks : dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuj primer, atau efusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk ronga, area fibrosa.

F.     Komplikasi
Penderita TB paru antara lain:        
a.       Penadarahan dari saluran pernafasan bagian bawah yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
b.      Penyebaran infeksi ke organ lain
Misalnya : otak, jantung, persendian, ginjal
(Corwin, 2001)

G.    Penatalaksanaan Medis
1.      Pengobatan
Tujuan terpenting dari tata laksana pengobatan tuberkulosis adalah eradikasi cepat M. tuberkulosis, mencegah resistensi, dan mencegah terjadinya komplikasi.
Jenis dan Obat Anti TB Paru :
a.       Isoniazid (H)
Isoniazid (dekenal dengan INH) bersifat bakterisid, efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Efek samping yang mungkin timbul berupa neuritis perifer, hepatitis rash, demam. Bila terjadi ikterus, pengobatan dapat dikurangi dosisnya atau dihentikan sampai icterus membaik. Efek sampan ringan dapat berupa kesemutan, nyeri otot, gatal-gatal. Pada keadaan ini pemberian INH dapat diteruskan sesuai dosis.
b.      Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dorman (persisten). Efek samping rifampisin adalah hepatitis, mual, reaksi demam, trombositopenia. Rifampisin dapat menyebabkan warna merah atau jingga pada air seni dan keringat, dan itu harus diberitahukan pada keluarga atau penderita agar tidak menjadi cemas. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolism obat dan tidak berbahaya.
c.       Pirazinamid (P)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Efek samping pirazinamid adalah hiperurikemia, hepatits, atralgia.
d.      Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, efek samping dari streptomisin adalah nefroroksik dan kerusakan nervus kranialis VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.
e.       Ethambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, ethambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna merah dan hijau, maupun optic neuritis.
2.      Pembedahan
Dilakuakn jika pengobatan tidak berhasil, yaitu dengan mengangkat jaringan paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan tulang, bronkoskopi untuk mengangkat polip granulomatosa tuberkulosis atau untuk reseksi bagian paru yang rusak.
3.      Pencegahan
Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberkulosis, mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi adekuat, minum susu yang telah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteria hingga dilakukan pengobatan, pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis virulen. (Depkes, 2002)

H.    Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala      : terjadi kelelahan umum dan kelemahan, dyspnea saat kerja maupun
istirahat, kesulitan tidur pada malam hari, demam pada malam hari, menggigil berkeringar pada malam hari (diaphoresis), dan mimpi buruk.
Tanda       : Takikardia, takipnea, dyspnea saat kerja, kelelahan otot dan nyeri.
b.      Sirkulasi
Gejala      : palpitasi
Tanda       : Takikardia, disritmia, adanya S3 dan S4, bunyi gallop (gagal jantung
akibat effuse), nadi apical berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal, tanda Homman (bunyi rendah denyut jantung akibat adanya udara dalam mediastinum), TD : hipertensi atau hipotensi, distensi vena jugularis.
c.       Integritas ego
Gejala      : gejala-gejala stress yang berhubungan dengan lamanya perjalanan
penyakit, masalah keuangan, perasaan tidak berdaya/putus asa, menurunnya produktivitas.
Tanda       : menyangkal (khususnya pada tahap dini), Ansietas, ketakutan, gelisah,
iritabel, perhatian menurun, perubahan mental (tahap lanjut).
d.      Makanan dan cairan
Gejala      : kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan.
Tanda       : turgor kulit buruk, kering, bersisik, kehilangan massa otot, kehilangan
lemak subkutan.
e.       Nyeri dan kenyamanan
Gejala      : nyeri dada meningkat karena pernapasan, batuk berulang nyeri
tajam/menusuk diperberat oleh napas dalam, mungkin menyebar ke bahu, leher atau abdomen.
Tanda       : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
f.       Pernapasan
Gejala      : batuk (produktif atau tidak produktif), napas pendek, riwayat terpajan
tuberculosis dengan individu terinfeksi.
Tanda       : peningkatan frekuensi pernapasan, peningkatan kerja napas, penggunaan
otot aksesori pernapasan pada dada, leher, retraksi intercostal, ekspirasi abdominasl kuat, pengembangan dada tidak simetris, perkusi pekak dan penurunan fremitus, pada pneumotoraks perkusi hiperresonan di atas area yang terlihat, bunyi napas menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral, bunyi napas tubuler atu pectoral di atas lesi, crackles di atas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (crackels posttussive), karakteristik sputum hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah, deviasi trakeal.
g.      Keamanan
Gejala      : kondisi penurunan imunitras secara umum memudahkan indeksi
sekunder.
Tanda       : demam ringan atau demam akut.
h.      Interaksi sosial    
Gejala      : perasaan terisolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan
aktivitas sehari-hari karena perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.

i.        Penyuluhan/pembelajaran
Gejala      : riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk,
gagal untuk membaik/kambuhnya TB, tidak berpartisipasi dalam terapi.
j.        Macam tes diagnostik yang dapat dilakukan untuk mendeteksi pemeriksaan TB paru.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan upaya batuk buruk.
b.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi mukopurulen dan kekurangan upaya batuk.
c.       Gangguan pertukaran gas berhubungan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran di alveolar, kapiler, sekret kental dan tebal.
d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
e.       Gangguan pada istirahat tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk.
f.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihand an inadekuat oksigenasi untuk aktivitas.
g.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan jalan interpretasi inibrasi, keterbatasan kognitif.
h.      Risiko tinggi infeksi terhadap penyebaran berhubungan dengan pertahan primer adekuat, kerusakan jaringan penekanan proses infalmasi, malnutrisi.

3.      Rencana Keperawatan
a.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan upaya baatuk buruk
Tujuan                  : bersihan jalan napas efektif
Kriteria Hasil       : pasien dapat mempertahankan jalan napas dan mengeluarkan
sekret tanpa bantuan
intervensi             :
1)      Kaji fungsi pernapasan contoh bunyi napas, kecepatan, irama, dan kelemahan dan penggunaan otot bantu.
Rasional : peningkatan bunyi napas dapat menunjukkan atelectasis, ronchi, mengi, menunjukkan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan.
2)      Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptysis.
Rasional : pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal sputum berdarah kental/darah cerah (missal efek infeksi, atau tidak kuatnya hidrasi)
3)      Berikan klien posisi semi atau fowler tinggi
Rasional : posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan.
4)      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, penghisapan sesuai keperluan.
Rasional : mencegah obstruksi respirasi, penghisapan dapat diperlukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
5)      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml.hari kecuali kontra indikasi.
Rasional : pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret, membantu untuk mudak dikeluarkan.
b.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi mukopurulen dan kekurangan upaya batuk.
Tujuan                  : setelah dilakukan tindakan keperawatan pola napas kembali aktif.
Kriteria Hasil       : dyspnea berkurang, frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan
Normal
Intervensi             :
1)      Kaji kualitas dan kedalaman pernapasan penggunaan otot aksesoris, catat setiap perubahan.
Rasional : kecepatan biasanya meningkat, dyspnea terjadi peningkatan kerja napas, kedalaman pernapasan dan bervariasi tergantung derajat gagal napas.
2)      Kaji kualitas sputum, warna, baud an konsistensi
Rasional : adanya sputum yang tebal, kental, berdarah dan purulen diduga terjadi sebagai masalah sekunder.
3)      Baringkan klien untuk mengoptimalkan pernapasan (semi fowler)
Rasional : posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal upaya batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret.
c.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran alveolar, kapiler, sekret kental dan tebal.
Tujuan                  : tidak ada tanda-tanda dyspnea
Kriteria Hasil       : melaporkan tidak adanya penurunan dyspnea, menunjukkan
perbaikan ventilasi dan O2 jaringan adekuat dengan AGP dalam rentang normal, bebas dari gejala, distes pernapasan.
Intervensi             :
1)      Kaji dyspnea, takipnea, tidak normal atau menurunnya bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
Rasional : TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas nekrosis efusi pleural untuk fibrosis luas.
2)      Evaluasi tingkat kesadaran, catat sianosis dan perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.
Rasional : akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dapat mengganggu O2 organ vital dan jaringan.
3)      Tunjukkan/dorong bernapas dengan bibir selama indikasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
Rasional : membuat tahanan melawan udara luar untuk mencegah kolaps atau penyempitan jalan napas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan atau menurunkan napas pendek.
4)      Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas pasien sesuai keperluan.
Rasional : menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala.
5)      Kolaborasi medis dengan pemeriksaan ACP dan pemberian oksigen.
Rasional : mencegah pengeringan membran mukosa, membantu pengenceran sekret.
d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan, anoreksia, ketidakcukupan nutrisi.
Tujuan                  : kebutuhan nutrisi terpenuhi (tidak terjadi perubahan nutrisi)
Kriteria Hasil       : pasien menunjukkan peningkatan berat badan dan melakukan
perilaku atau perubahan pola hidup
Intervensi             :
1)      Catat status nutrisi pasien dari penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangannya berat badan, riwayat mual atau muntah, diare.
Rasional : berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
2)      Pastikan pada diet biasa pasien yang disukai atau tidak disukai.
Rasional  : membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.
3)      Selidiki anoreksia, mual dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat, awasi frekuensi, volume konsistensi feses.
Rasional : dapat memengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan atau penggunaan nutrien.
4)      Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional : membantu menghemat energy khususnya bila kebutuhan meningkat saat demam.
5)      Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
Rasional : menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.
6)      Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein.
Rasional : masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu atau kebutuhan energi dari makan makanan banyak dari menurunkan iritasi gaster.
7)      Kolaborasi, rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional : bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.


e.       Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk.
Tujuan                  : agar pola tidur terpenuhi
Kriteria Hasil       : pasien dapat istirahat tidur tanpa terbangun
Intervensi             :
1)      Diskusikan perbedaan individual dalam kebutuhan tidur berdasarkan hal usia, tingkat aktivitas, gaya hidup tingkat stress.
Rasional : rekomendasi yang umum untuk tidur 8 jam tiap malam nyatanya tidak mempunyai fungsi dasar ilmiah individu yang dapat rileks dan istirahat dengan mudah memerlukan sedikit tidur untuk merasa segar kembali dengan bertambahnya usia waktu tidur. Total secara umum menurun, khususnya tidur tahap IV dan waktu tahap meningkat.
2)      Tingkatkan relaksasi, berikan lingkungan yang gelap dan terang, berikan kesempatan untuk memilih penggunaan bantal, linen dan selimut, berikan ritual waktu tidur yang menyenangkan bila perlu pastikan ventilasi ruangan baik, tutup pintu ruangan bila klien menginginkan.
Rasional : tidur akan sulit dicapai sampai tercapai relaksasi, lingkungan rumah sakit dapat mengganggu relaksasi.
f.       Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan keletihan dan inadekuat oksigen untuk aktivitas.
Tujuan                  : agar aktivitas kembali efektif
Kriteria Hasil       : pasien mampu melakukan ADLnya secara mandiri dan tidak
kelelahan setelah beraktivitas.
Intervensi             :
1)      Jelaskan aktivitas dan faktor yang meningkatkan kebutuhan oksigen seperti merokok, suhu sangat ekstrim, berat badan kelebihan, stress.
Rasional : merokok, suhu ekstrim dan stress menyebabkan vasokontriksi yang meningkatkan beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen, berat badan berlebihan, meningkatkan tahapan perifer yang juga meningkatkan beban kerja jantung.
2)      Secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi.
Rasional : mempertahankan pernapasan lambat, sedang dan latihan yang diawasi memperbaiki kekuatan otot aksesori dan fungi pernapasan.
3)      Memberikan dukungan emosional dan semangat.
Rasional : rasa takut terhadap kesulitan bernapas dapat menghambat peningkatan aktivitas.
4)      Setelah aktivitas kaji respon abnormal untuk meningkatkan aktivitas.
Rasional : intoleransi aktivitas dapat dikaji dengan mengevaluasi jantung sirkulasi dan status pernapasan setelah beraktivitas.
g.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan salah satu interprestasi informasi, keterbatasan kognitif, tidak lengkap informasi yang ada.
Tujuan                  : pengetahuan pasien bertambah tentang penyakit TB paru
Kriteria Hasil       : pasien menyatakan mengerti tentang penyakit TB paru
Intervensi             :
1)      Kaji kemampuan pasien untuk belajar
Rasional : belajar tergantung pada emosi dari kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu.
2)      Berikan instruksi dan informasi tertulis pada pasien untuk rujukan contoh : jadwal obat.
Rasional : informasi tertulis menentukan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi pengulangan menguatkan belajar.
3)      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alas an pengobatan lama, dikaji potensial interaksi dengan obat atau susbtansi lain.
Rasional : meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.
4)      Dorong untuk tidak merokok.
Rasional : meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TBC tetapi meningkatkan disfungsi pernapsan.
5)      Kaji bagaimana yang ditularkan kepada orang lain
Rasional : pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan atau reaktivitas ulang juga komperkasi sehubungan denga reaktivitas.
h.      Resiko tinggi infeksi terhadap penyebaran atau aktivitas ulang berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, kerusakan jaringan, penekanan proses inflamasi, mal nutrisi
Tujuan                  : tidak terjadi infeksi terhadap penyebaran
Kriteria Hasil       : pasien mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau
menurunkan resiko penyebaran infeksi, melakukan perubahan pola hidup
Intervensi             :
1)      Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa.
Rasional : membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang atau komplikasi serta membantu pasien atau orang terdekat untuk mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang lain.
2)      Identifikasi orang lain yang beresiko, misal : anggota keluarga, sahabat karib/teman.
Rasional : orang-orang yang terpejan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya infeksi.
3)      Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, misal : masker atau isolasi pernapasan.
Rasional : dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien dan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular.
4)      Anjurkan pasien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah. Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat, dorong untuk mengulangi demonstrasi.
Rasional : perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran.
5)      Tekanan pentingnya tidak menghentikan terapi obat.
Rasional : periode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas, sedang resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
6)      Dorong memilih mencerna makanan seimbang, berikan makan sering, makanan kecil pada jumlah, makanan besar yang tepat.
Rasional : adanya anoreksia (mal nutrisi) sebelumnya, merendahkan tahapan terhadap proses ineksi dan mengganggu penyembuhan, makanan kecil dapat meningkatkan pemasukan semua.





























BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada bab ini membahas tentang asuhan keperawatan pada Tn. R dengan Tuberculosis Paru di Lantai V Barat Rumah Sakit Umum Daerah Budi Asih. Dengan pendekatan proses keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A.    Pengkajian Keperawatan
1.      Identitas Klien
Dilakukan pengkajian pada tanggal 05 Mei 2014 kepada Klien bernama Tn. R usia 41 tahun, berjenis kelamin laki-laki nomor register 929562, status perkawinan belum menikah, agama Islam, suku Betawi, pekerjaan karyawan swasta, beralamatkan Gg. Srikaya no 39 Jakarta Timur. Masuk ke Lantai V Barat RSUD Budi Asih pada tanggal 02 Mei 2014 dengan diagnosa medis Tuberculosis Paru.

2.      Resume
Klien masuk pada tanggal 02 Mei 2014 dengan keluhan utama sesak napas, dada sakit, tenggorokan gatal, demam pusing, batuk sejak 2 bulan yang lalu. Dilakukan pemeriksaan TTV: TD 160/90 mmHg, N 120x/menit, RR 36x/menit, S 38,2ºC. Diberikan terapi inhalasi Ventolin dan Flexotid, oksigen nasal kanul 4 liter, terpasang infus RL 14 tpm. Dilakukan pemeriksaan foto toraks dan laboratorium dengan hasil leukosit (WBC) 9.0 ribu/μL, Eritrosit 5.2 juta μL, Hemoglobin (HGB) 16.1 g/dL, Hematokrit (HCT) 4.1%, Trombosit (PLT) 290 ribu/ μL, MCV 32.0 fL, MCH 31.2 pg, MCHC 33.9 g/dL, ROW 14.7%, GDS 87 mg/dL.

3.      Riwayat Keperawatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan utama klien mengatakan batuk sudah 2 bulan. Faktor pencetusnya adalah klien suka merokok dan begadang. Upaya mengatasi sebelumnya klien sudah pergi ke dokter tapi belum sembuh.

b.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien mengatakan tidak pernah dirawat dirumah sakit maupun kecelakaan. Klien mengatakan tidak ada alergi obat, makanan, maupun binatang, dan tidak ada pemakaian obat sebelumnya.

c.       Genogram
 












Keterangan:






d.      Faktor Resiko
Klien mengatakan alm. Ayahnya dan alm. Kakaknya pernah mengalami riwayat penyakit yang sama dengan dirinya sekarang.




e.       Riwayat Psikososial dan Spiritual
Orang yang terdekat dengan klien adalah keponakan klien, interaksi dalam keluarga baik dengan pola komunikasi dua arah. Pembuat keputusan adalah klien sendiri, klien mengatakan tidak mengikuti kegiatan kemasyarakatan disekitar tempat tinggalnya. Dampak penyakit klien terhadap keluarga adalah adik klien dan keponakannya harus bergantian menjaga klien dirumah sakit. Masalah saat ini yang mempengaruhi klien adalah klien merasa menyusahkan keluarga, sehingga keluarga yang lain sulit untuk beraktivitas seperti biasa. Mekanisme koping klien terhadap penyakitnya adalah minum obat. Persepsi klien terhadap penyakitnya: hal yang sangat dipikirkan saat ini adalah kapan klien dapat sembuh dan pulang. Harapan setelah menjalani perawatan adalah kondisi klien lebih baik dan ingin cepat sembuh. Perubahan yang dirasakan setelah jatuh sakit adalah klien merasa tidak bisa bekerja seperti biasa. Sistem nilai kepercayaan: keluarga mengatakan tidak ada nilai yang bertentangan dengan agama, aktivitas agama yang dilakukan adalah solat lima waktu. Kondisi lingkungan rumah klien di perumahan yang padat penduduk jauh dari jalan raya dan tempat kotor seperti kali atau sungai yang kotor.

f.       Pola Kebiasaan Sebelum dan Sesudah
1)      Pola Nutrisi
Sebelum sakit, klien mengatakan frekuensi makannya tidak tentu terkadang dua sampai tiga kali per hari, Klien sering mengkonsumsi mie instan karena tidak ada yang masak di rumahnya, nafsu makan baik. Klien mengatakan makan habis satu porsi. Makanan yang tidak disukai dan membuat alergi tidak ada. Setelah di rumah sakit, klien terlihat tidak nafsu makan, klien hanya menghabiskan ¼ porsi makan, frekuensi makan klien tiga kali/hari. Klien tampak disuapi saat makan. Klien diberikan diit Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP). Tidak ada penggunaan obat-obatan sebelum makan dan tidak ada penggunaan alat bantu makan.




2)      Pola Eliminasi
a)      BAK
Sebelum sakit, klien mengatakan BAK ± tiga sampai lima kali sehari, warna urine kuning jernih, keluhan tidak ada. Setelah di rumah sakit klien tidak terpasang kateter sehingga klien menggunakan pispot  dan pampers untuk BAK, klien BAK ± empat sampai lima kali sehari tidak ada keluhan yang dirasakan klien saat ini.
b)      BAB
Sebelum sakit, klien mengatakan BAB lancar satu kali  per hari pada waktu pagi, feses berwarna kuning kecoklatan dengan konsistensi lunak. Setelah di rumah sakit klien mengatakan belum BAB.

3)      Personal Hygiene
a)      Mandi
Di rumah, klien mandi dua kali per hari, pagi dan sore. Di rumah sakit klien mengatakan tidak mandi, badannya hanya dilap saja menggunakan waslap basah pada saat pagi dan sore.
b)      Oral Hygiene
Di rumah, klien menggosok gigi dua kali per hari, pagi dan sore. Di rumah sakit klien mengatakan tidak pernah gosok gigi.
c)      Cuci Rambut
Di rumah, klien cuci rambut setiap hari. Di rumah sakit klien mengatakan belum cuci rambut, kondisi kepala tampak kotor, tidak ada lesi dan ketombe.

4)      Pola Istirahat dan Tidur
Saat di rumah klien mengatakan tidak pernah tidur siang, klien mengatakan tidur malam lamanya lima sampai tujuh jam per hari. Tidak ada kebiasaan yang klien lakukan sebelum tidur. Setelah di rumah sakit, klien tidur siang jam sekitar dua sampai tiga jam per hari dan tidur malam enam sampai delapan jam per hari. Tidak ada kebiasaan yang klien lakukan sebelum tidur.

5)      Pola Aktivitas dan Latihan
Saat di rumah, klien mengatakan bekerja dari pagi hingga sore, terkadang klien harus lembur sampai malam. Klien mengatakan tidak pernah olahraga karena tidak memiliki waktu untuk berolahraga. Di rumah sakit, klien mengatakan lemas sehingga kebtuhan dasarnya dibantu.

6)      Kebiasaan yang Mempengaruhi Kesehatan
Selama di rumah klien mengatakan merokok dengan frekuensi  dalam satu hari dapat menghabiskan satu samapai dua bungkus rokok. Klien merokok sejak umur 17 tahun.

4.      Pengkajian Fisik
a.       Pemeriksaan Fisik Umum
Tinggi badan klien 170 cm, berat badan klien sebelum sakit 55 kg, setelah sakit 52 kg,  BBideal 63 kg, TD 150/90 mmHg, N 92 x/menit, RR 22 x/menit, S 36,5°C. Kesadaran composmentis, tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.  IMT : 17,99.
b.      Sistem Penglihatan
Posisi mata simetris, kelopak mata normal, pergerakan bola mata normal, konjungtiva ananemis, kornea normal, sklera anikterik, pupil isokor, tidak ada kelainan pada otot mata, fungsi penglihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, klien tidak menggunakan  kacamata dan lensa kontak, reaksi terhadap cahaya normal.
c.       Sistem Pendengaran
Daun telingga normal, terdapat serumen pada kedua telinga, bau khas, cairan telinga normal, tidak ada perasaan penuh di telinga maupun tinnitus, fungsi pendengaran baik, tidak ada gangguan keseimbangan, klien tidak  menggunakan alat bantu dengar.
d.      Sistem Wicara
Sistem wicara klien normal, tidak ada tanda-tanda aphasia, aphonia, dysatria, dysphasia ataupun  anarthia.


e.       Sistem Pernafasan
Jalan nafas terdapat sumbatan, klien sesak, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, frekuensi nafas 22 x/menit, irama pernapasan spontan, klien batuk produktif, palpasi dada simetris, perkusi dada sonor, suara nafas rochi, tidak ada nyeri saat bernafas.
f.       Sistem Kardiovaskuler
1)      Sirkulasi Perifer
Nadi 92 x/menit, irama teratur, denyut nadi teraba kuat, tekanan darah 150/90 mmHg, tidak terdapat distensi vena jugularis baik kiri maupun kanan, akral hangat, warna kulit pucat, pengisian kapiler ≤ 3 detik, tidak ada edema pada ekstermitas bawah.
2)      Sirkulasi Jantung
Kecepatan denyut apical 94 x/menit, irama teratur, bunyi jantung normal, tidak ada sakit dada.
3)      Sistem Hematologi
Klien tampak pucat dan tidak ada perdarahan.
4)      Sistem Saraf Pusat
Klien mengatakan pusing.kesadaran compos mentis, GCS 15; E = 4, M = 6, V = 5. Reflek fisiologis normal dan patologis tidak ada.
5)      Sistem Pencernaan
Keadaan mulut bersih, terdapat caries, tidak menggunakan gigi palsu, tidak terdapat stomatitis, lidah tampak kotor, saliva normal, bising usus dua puluh lima kali per menit, tidak diare. tidak ada perdarahan, hepar tidak teraba dan distensi abdomen.
6)      Sistem Endokrin
Saat dipalpasi tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak bau keton dan tidak ada luka gangren.
7)      Sistem Urologenital
Kandung kemih klien tidak teraba penuh, tidak terjadi retensi, warna urine kuning, input sebagai berikut, minum 500cc, injeksi 22 cc, infus Asering 12 tpm, output sebagai berikut, IWL 780, urine 500cc, balance cairan: input- ( output+ IWL) = 1386- (500+ 780) =  +106 cc. Tidak ada keluhan sakit di pinggang.
8)      Sistem Integumen
Turgor kulit elastis, akral hangat, warna kulit pucat, kebersihan kulit kurang bersih, keadaan kulit baik, tidak terdapat kelainan kulit, kondisi pemasangan infuse terpasang baik tidak ada kemerahan ataupun flebitis, keadaaan rambut dengan tekstur kasar serta kebersihan kulit kurang baik.
9)      Sistem Musculoskeletal
Klien dibantu dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, klien mengeluh sakit pada sendi, klien mempunyai riwayat asam urat, tidak ada fraktur serta tidak mengalami kelainan bentuk sendi maupun struktur tulang sendi. Keadaan tonus baik. Kekuatan otot baik.
5  5  5  5
5  5  5  5
5  5  5  5
5  5  5  5

Data Tambahan
Klien tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya saat ini.

5.      Data penunjang
Tanggal  02 Mei 2014
Pemeriksaan foto toraks dengan hasil terdapat bercak pada paru, hasil positif TB paru.
Pemeriksaan laboratorium dengan hasil leukosit (WBC) 9.0 ribu/μL, Eritrosit 5.2 juta μL, Hemoglobin (HGB) 16.1 g/dL, Hematokrit (HCT) 4.1%, Trombosit (PLT) 290 ribu/ μL, MCV 32.0 fL, MCH 31.2 pg, MCHC 33.9 g/dL, ROW 14.7%, GDS 87 mg/dL.

6.      Penatalaksanaan
Tanggal 05 Mei 2014
Obat oral :
Amlodipine 1 x 5mg pada jam 08
PCT 3 x 1 pada jam 08, 16, 24
Rifampicin 1 x 450mg pada jam 08
Ethambutol 1 x 1250mg pada jam 08
Ambroxol syr.
Obat parenteral :
Ceftriaxone 1 x 2 gram pada jam 06
Inhalasi ventolin 3 x 1, flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22
Ranitidine 1 x 1amp pada jam 22
Asering 14 tpm

7.    Analisa Data
No
Data
Masalah
Etiologi
1
DS :
-          Klien mengatakan batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu
-          Klien mengatakan sesak napas
-          Klien mengatakan dapat mengeluarkan dahak
-          Klien mengatakan dahak berwarna putih
DO:
-          Klien tampak lemah
-          Suara napas ronchi
-          TTV :
TD : 150/90 mmHg
N   : 92 x/menit
RR : 22x/menit
S    : 36,7ºC
-          Klien terpasang oksigen nasal kanul 2 liter
-          Klien mendapat terapi inhalasi ventolin 3 x 1, flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22
-          Klien mendapat terapi Ambroxol syr.
Bersihan jalan napas tidak efektif
Penumpukan sekret pada jalan napas
2
DS:
-          Klien mengatakan tidak nafsu makan
-          Klien mengatakan lidahnya terasa pahit
DO:
-          Klien tampak lemah
-          Klien tampak pucat
-          Klien hanya menghabiskan ¼ porsi makanan
-          BB sebelumnya 55kg
BB sekarang 52 kg
-          BB ideal 63 kg
-          IMT 17,99
-          Klien mendapat terapi Ranitidine 1 x 1amp pada jam 22
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Intake yang tidak adekuat

3
DS :
-          Klien mengatakan badannya terasa lemas
-          Klien mengatakan sulit untuk bergerak
DO:
-          Klien tampak lemas
-          Klien tampak pucat
-          Semua aktivitas klien dibantu perawat maupun keluarga
Intoleransi aktivitas
Kelemahan umum
4
DS : -
DO :
-          Klien tampak lemas
-          TTV :
TD : 150/90 mmHg
N   : 92 x/menit
RR : 22x/menit
S    : 36,7ºC
-          Klien mendapat terapi Ceftriaxone 1 x 2 gram pada jam 06, Rifampicin 1 x 450mg pada jam 08, Ethambutol 1 x 1250mg pada jam 08
Resiko tinggi infeksi
Adanya proses inflamasi


B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
4.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi.







C.    Perencanaan, Pelaksanaan dan  Evaluasi Keperawatan
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas.
Data Subjektif          : Klien mengatakan batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu, klien
mengatakan sesak napas, klien mengatakan dapat mengeluarkan dahak, klien mengatakan dahak berwarna putih.
Data Objektif           : Klien tampak lemah, suara napas ronchi, TTV : TD : 150/90
mmHg, N   : 92 x/menit, RR : 22x/menit, S    : 36,7ºC, klien terpasang oksigen nasal kanul 2 liter, klien mendapat terapi inhalasi ventolin 3 x 1, flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22, klien mendapat terapi Ambroxol syr.
Tujuan                      : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama  3 x 24 jam
bersihan jalan napas efektif.
Kriteria Hasil           : Tidak batuk, tidak sesak, suara napas vesikuler, tidak ada sekret,
tidak terpasang oksigen tambahan, TTV normal : TD 110/70 – 120/80 mmHg, N 60 – 100 x/menit, S 36 - 37ºC, RR 16 – 20 x/menit.
Rencana Tindakan  :
Mandiri
a.       Berikan posisi fowler atau semifowler
b.      Ajarkan batuk efektif
c.       Anjurkan klien minum air hangat
d.      Lakukan fisioterapi dada
e.       Pantau pengeluaran dan karakteristik sekret
f.       Observasi suara napas
g.      Observasi tanda-tanda vital
Kolaborasi
a.       Berikan terapi inhalasi Ventolin 3 x 1, Flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22,
b.      Berikan terapi Ambroxol syr.


Pelaksanaan
             Tanggal 05 Mei 2014
Pukul 09.00 WIB, mengukur tanda-tanda vital, suara napas, keadaan umum klien,  TD 150/90 mmHg, N 92 x/menit, S 36,7 °C, RR 22 x/menit, keadaan klien lemah, suara napas klien ronchi. Pukul 12.00 WIB mengatur posisi semi fowler, anjurkan klien minum air hangat. Pukul 14.00 WIB memberikan terapi inhalasi Ventolin 1 x 1. Pukul 16.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 150/100 mmHg, N 90 x/menit, S 36,5°C, RR 23 x/menit. Pukul 18.00 WIB, memberikan Ambroxol syrp. Pukul 22.00 WIB, memantau TTV TD 150/100 mmHg, N 90 x/menit, S 37°C, RR 22 x/menit. Memberikan inhalasi Ventolin 1 x 1, Flexotide 1 x 1.

Tanggal 06 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, mengukur TTV, TD 140/80 mmHg, N 80x/menit, S 36°C, RR 20 x/menit. Pukul 09.00 WIB, mengukur TTV, suara napas, keadaan umum klien, TD 140/90 mmHg, N 84 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit, suara napas ronchi, klien tidak terpasang nasal kanul, klien mengatakan sudah tidak sesak, klien tampak lemas. Pukul 12.30 WIB memberikan posisi semifowler, melakukan fisioterapi dada, mengajarkan batuk efektif, memantau pengeluaran dan karakteristik sekret, sekret berwarna hijau kental, jumlah 3 cc. Pukul 16.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 160/90 mmHg, N 90 x/menit, S 36,5°C, RR 22 x/menit, klien tampak batuk produktif, mengatur posisi fowler. Pukul 18.00 WIB memberikan Ambroxol syr. Pukul 22.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 140/80 mmHg, N 84 x/menit, S 36,3°C, RR 20 x/menit. Memberikan inhalasi Ventolin 1 x 1, Flexotide 1 x 1.

Tanggal 07 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 150/80 mmHg, N 80 x/menit, S 36°C, RR 20 x/menit. Memberikan inhalasi Ventolin 1 x 1, Flexotide 1 x 1. Pukul 08.00 WIB memantau pengeluaran sekret klien, sekret berwarna hijau kental, klien tampak lemah. Pukul 10.00 WIB memantau TTV TD 150/90 mmHg, N 86 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit.

Evaluasi
Tanggal  07 Mei 2014, Pukul 14.00 WIB
Subyektif                   : Klien mengatakan masih batuk berdahak
Objektif                     : Klien tampak lemah, batuk produktif, suara napas ronchi, tidak
terpasang oksigen tambahan, TTV TD 150/90 mmHg, N 86 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit.
Analisa                       : Tujuan tercapai sebagian, masalah belum teratasi
Perencanaan               : Intervensi dilanjutkan
Mandiri
a.       Berikan posisi fowler atau semifowler
b.      Lakukan fisioterapi dada
c.       Pantau pengeluaran dan karakteristik sekret
d.      Observasi suara napas
e.       Observasi tanda-tanda vital
Kolaborasi
a.       Berikan terapi inhalasi Ventolin 3 x 1, Flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22,
b.      Berikan terapi Ambroxol syr.

2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Data Subyektif                : Klien mengatakan tidak nafsu makan, klien mengatakan
lidahnya terasa pahit
Data Objektif                   : Klien tampak lemah, klien tampak pucat, klien hanya
menghabiskan ¼ porsi makanan, BB sebelumnya 55kg, BB sekarang 52 kg, BB ideal 63 kg, IMT 17,99, Klien mendapat terapi Ranitidine 1 x 1 amp pada jam 22
Tujuan                             : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24
jam masalah nutrisi dapat teratasi
Kriteria Hasil                   : Klien tampak segar, nafsu makan klien meningkat, klien
dapat menghabiskan 1 porsi makanan, BB klien meningkat sesuai dengan BB ideal.
Rencana Tindakan         :
Mandiri
a.    Anjurkan klien makan sedikit tapi sering
b.    Kaji makanan kesukaan dan makanan yang tidak disukai klien
c.    Berikan makanan kesukaan klien sebagai makanan tambahan
d.   Berikan makanan selagi hangat
e.    Pantau porsi makan klien
f.     Pantau BB klien
Kolaborasi
a.    Berikan klien diit TKTP
Pelaksanaan
Tanggal 05 Mei 2014
Pukul 10.00 WIB, mengkaji makanan yang disukai dan tidak disukai klien. Klien mengatakan tidak menyukai makan rumah sakit karena terasa hambar. Mengajurkan keluarga memberikan makanan tambahan kesukaan klien yang dibolehkan. Pukul 12.00 WIB, memantau porsi makan klien. Klien hanya menghabiskan ¼ porsi makan. Menganjurkan klien makan sedikit tapi sering. Pukul 18.00 WIB, menganjurkan klien makan selagi hangat. Pukul 18.30 WIB memantau porsi makan klien. Klien hanya menghabiskan ½ porsi makan.

Tanggal  06 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, memantau porsi makan klien. Klien hanya menghabiskan ¼ porsi makanan. Pukul 12.00 WIB, menganjurkan klien makan selagi hangat, menganjurkan klien makan sedikit tapi sering. Klien menolak makan makanan rumah sakit. Memberikan klien roti. Klien dapat menghabiskan 1 potong roti. Memotivasi klien untuk menghabiskan makanannya. Pukul 18.00 WIB, memberikan klien makan, memantau porsi makan klien. Klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan.


Tanggal 07 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, memberikan makanan sesuai diit TKTP selagi hangat. Pukul 07.00 WIB memantau porsi makan klien, klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan, klien mengatakan tidak nafsu makan, klien mengatakan hanya mau makan roti. Motivasi klien untuk makan sesuai diit yang telah disediakan di rumah sakit. Pukul 12.00 WIB, memberi makan klien selagi hangat. Pukul 12.30 WIB memantau porsi makan klien. Klien hanya menghabiskan ½ porsi makanan\

Evaluasi
Tanggal 07 Mei 2014, Pukul 14.00 WIB
Subyektif              :  Klien mengatakan masih tidak nafsu makan, klien mengatakan
tidak suka makanan rumah sakit
Objektif                 :  Klien tampak lemah, klien hanya menghabiskan ½ porsi
makanan, belum ada peningkatan pada BB klien.
Analisa                  :  Tujuan belum tercapai, masalah belum teratasi
Perencanaan          :  Intervensi dilanjutkan
Mandiri
a.       Berikan makanan kesukaan klien sebagai makanan tambahan
b.      Pantau porsi makan klien
c.       Pantau BB klien
Kolaborasi
a.       Berikan klien diit TKTP

3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Data Subyektif             :  Klien mengatakan badannya terasa lemas, klien mengatakan sulit
untuk bergerak
Data Objektif                : Klien tampak lemas, klien tampak pucat, semua aktivitas klien
dibantu perawat maupun keluarga
Kriteria Hasil                 :  klien tampak segar, klien dapat melakukan ADL secara mandiri
Rencana tindakan           :
Mandiri
a.    Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang tidak dapat klien lakukan sendiri
b.    Secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi
c.    Motivasi klien dalam melakukan aktivitas secara mandiri
d.   Observasi respon klien

Pelaksanaan
Tanggal 05 Mei 2014
Pukul 07.00 WIB, membantu mengganti sprei dan sarung bantal. 12.00 WIB, membantu klien makan. pukul 16.00 WIB, membantu klien ke toilet. Pukul 17.00 membantu klien mengganti baju.

Tanggal 06 Mei 2014
Pukul 12.00 WIB membantu klien makan. Pukul 14.00 WIB membantu klien ke toilet. Pukul 17.00 WIB membantu klien mengganti pampers. Membantu klien membersihkan badannya dengan waslap.

Tanggal 07 Mei 2014
Pukul 06.00 membantu klien makan. memotivasi klien untuk melakukan ADL sendiri. Pukul 12.00 WIB, membantu klien makan.

Evaluasi
Tanggal 07 Mei 2014, Pukul  14.00 WIB
Subyektif                       : Klien mengatakan badannya merasa lemas
Objektif                         : Klien tampak lemas, klien tampak pucat, klien tampak pucat,
aktivitas klien dibantu
Analisa                           : Tujuan belum tercapai, masalah belum teratasi
Perencanaan                   : Intervensi dilanjutkan
Mandiri
a.       Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang tidak dapat klien lakukan sendiri
b.      Secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi
c.       Motivasi klien dalam melakukan aktivitas secara mandiri

4.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi.
Data Subyektif             :  -
Data Objektif                : Klien tampak lemas, TTV : TD : 150/90 mmHg, N   : 92 x/menit,
RR : 22x/menit, S : 36,7ºC, klien mendapat terapi Ceftriaxone 1 x 2 gram pada jam 06, Rifampicin 1 x 450mg pada jam 08, Ethambutol 1 x 1250mg pada jam 08
Kriteria Hasil                 : Klien tampak segar, tidak ada tanda-tanda infeksi, TTV normal
TD 110/70 – 120/80 mmHg, N 60 – 100 x/menit, S 36 - 37ºC, RR 16 – 20 x/menit
Rencana tindakan           :
Mandiri
a.       Anjurkan klien menjaga kebersihan
b.      Anjurkan klien menggunakan masker
c.       Anjurkan klien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu dan menghindari meludah
d.      Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat, dorong untuk mengulangi demonstrasi
e.       Anjurkan klien membuang dahak pada air yang mengalir
f.       Observasi TTV
Kolaborasi  :
a.       Berikan terapi Ceftriaxone 1 x 2gram pada jam 06
b.      Berikan terapi Rifampicin 1 x 450mg pada jam 08
c.       Berikan terapi Ethambutol 1 x 1250mg pada jam 08




Pelaksanaan
Tanggal 05 Mei 2014
Pukul 09.00 WIB, melakukan observasi TTV, TD 150/90 mmHg, N 92 x/menit, S 36,7ºC, RR 22 x/menit. Menganjurkan klien dan keluarga menggunakan masker. Pukul 11.00 melakukan observasi TD 150/90 mmHg, menganjurkan klien menutup mulutnya saat batuk dan bersin. Pukul 13.00 WIB menganjurkan klien membuang dahak pada air yang mengalir. Pukul 16.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 150/100 mmHg, N 90 x/menit, S 36,5°C, RR 23 x/menit. Pukul 22.00 WIB, memantau TTV TD 150/100 mmHg, N 90 x/menit, S 37°C, RR 22 x/menit.


Tanggal 06 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, mengukur TTV, TD 140/80 mmHg, N 80x/menit, S 36°C, RR 20 x/menit. Memberikan terapi Ceftriaxone 1 x 2 gram, Rifampicin 1 x 450 mg, Ethambutol 1250 mg. Pukul 09.00 WIB, mengukur TTV, TD 140/90 mmHg, N 84 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit. Pukul 13.00 WIB, menganjurkan klien cuci tangan setiap sebelum dan setelah melakukan sesuatu. Anjurkan klien untuk tetap menjaga kebersihan. Pukul 16.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 160/90 mmHg, N 90 x/menit, S 36,5°C, RR 22 x/menit. Pukul 22.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 140/80 mmHg, N 84 x/menit, S 36,3°C, RR 20 x/menit.

Tanggal 07 Mei 2014
Pukul 06.00 WIB, melakukan observasi TTV TD 150/80 mmHg, N 80 x/menit, S 36°C, RR 20 x/menit. Memberikan terapi Ceftriaxone 1 x 2 gram, Rifampicin 1 x 450 mg, Ethambutol 1250 mg. Pukul 10.00 WIB memantau TTV TD 150/90 mmHg, N 86 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit.





Evaluasi
Tanggal 07 Mei 2014, Pukul  14.00 WIB
Subyektif                       : -
Objektif                          : klien tampak lemas, tidak ada tanda-tanda infeksi, TTV TD
150/90 mmHg, N 86 x/menit, S 36,5°C, RR 20 x/menit
Analisa                           : Tujuan tercapai sebagian, masalah belum teratasi
Perencanaan                   : Intervensi dilanjutkan 
Mandiri
a.       Anjurkan klien menjaga kebersihan
b.      Anjurkan klien menggunakan masker
c.       Anjurkan klien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu dan menghindari meludah
d.      Observasi TTV
Kolaborasi  :
a.       Berikan terapi Ceftriaxone 1 x 2gram pada jam 06
b.      Berikan terapi Rifampicin 1 x 450mg pada jam 08
c.       Berikan terapi Ethambutol 1 x 1250mg pada jam 08














BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas mengenai kesenjangan yang terjadi antara teori dan kasus dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien Tn. R dengan Tuberculosis Paru di Lantai V Barat RSUD Budi Asih. Pembahasan dibuat dengan menggunakan proses keperawatan melalui tahap pengkajian, pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A.  Pengkajian Keperawatan
Pada tahap pengkajian, tidak ditemukan adanya kesenjangan pada etiologi antara teori dan kasus. Secara teori, etiologi dari Tuberculosis Paru adalah individu terpajan langsung oleh Mycobacterium tuberculosis yang bersifat aerob. Sedangkan pada kasus etiologi dari penyakit Tuberculosis Paru adalah klien terserang kuman dari alm. Ayahnya dan alm. Kakaknya yang sebelumnya tinggal satu rumah.

Penulis tidak menemukan kesenjangan tanda dan gejala. Secara teori, batuk lebih dari 3 minggu, dahak, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, wheezing, demam dan menggigil, penurunan berat badan, rasa lelah dan lemah, berkeringat banyak terutama di malam hari. Pada kasus kasus dari tanda dan gejala yang muncul adalah batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu, sesak napas, penurunan berat badan, kelemahan fisik, berkeringan banyak terutama di malam hari.

Untuk pemeriksaan penunjang terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Pemeriksaan penunjang pada teori antara lain pemeriksaan laboratorium: kultur sputum, Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah), tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer), anemia, leukosit ringan dengan predominasi limfosit, LED meningkat, GDA, Biopsy jarum pada jaringan paru, elektrolit; pemeriksaan radiologis: foto thoraks. Sedangkan pada kasus kasus pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium hematologi dan GDS, dan pemeriksaan radiologis foto toraks.

Untuk penatalaksanaan ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Dalam teori yaitu, Pengobatan : Isoniazid (H). Rifampisin (R), Pirazinamid (P), Streptomisin (S), Ethambutol (E); pembedahan, pencegahan. Sedangkan pada kasus, klien diberikan terapi Amlodipine 1 x 5mg, PCT 3 x 1, Rifampicin 1 x 450mg, Ethambutol 1 x 1250mg, Ambroxol syr., Ceftriaxone 1 x 2 gram, Inhalasi ventolin 3 x 1, flexotide 2 x 1, Ranitidine 1 x 1 amp, Asering 14 tpm.

Faktor pendukung dalam melakukan pengkajian yaitu klien dan keluarga kooperatif, dokumentasi yang cukup lengkap pada status, kerja sama yang baik antara mahasiswa dengan perawat ruangan, sehingga informasi yang diperoleh lebih komperhensif, dalam melakukan pengkajian tidak ditemukan adanya faktor penghambat.

Pada tahap awal pengkajian, dalam pengumpulan data fokus baik data subjektif maupun objektif, tidak ditemukan kesulitan karena adanya faktor pendukung yaitu kerjasama yang baik antara kasus dan perawat di Lantai V Barat RSUD Budi Asih. Dokumentasi yang cukup baik memudahkan penulis dalam memantau keadaan klien selama 24 Jam dan riwayat klien terdahulu selama proses pengkajian.

B.  Diagnosa Keperawatan
Pada diagnosa keperawatan ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Secara teori, diagnosa keperawatan yang muncul pada teori ada 8 (delapan) diagnosa keperawatan yaitu: Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan upaya batuk buruk, Pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi mukopurulen dan kekurangan upaya batuk, Gangguan pertukaran gas berhubungan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran di alveolar, kapiler, sekret kental dan tebal, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia, Gangguan pada istirahat tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihand an inadekuat oksigenasi untuk aktivitas, Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan jalan interpretasi inibrasi, keterbatasan kognitif, Risiko tinggi infeksi terhadap penyebaran berhubungan dengan pertahan primer adekuat, kerusakan jaringan penekanan proses infalmasi, malnutrisi.

Diagnosa keperawatan yang ada pada kasus ada 4 (empat) yaitu, Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi. Empat diagnosa keperawatan ini telah sesuai dengan teori. Diagnosa yang tidak muncul pada kasus tapi ada di teori ada 4 (tiga) yaitu, Pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi mukopurulen dan kekurangan upaya batuk, Gangguan pertukaran gas berhubungan penurunan permukaan efek paru, kerusakan membran di alveolar, kapiler, sekret kental dan tebal, Gangguan pada istirahat tidur berhubungan dengan sesak napas dan batuk dan Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan jalan interpretasi inibrasi, keterbatasan kognitif. Karena tidak ada data-data yang mendukung untuk di angkat sebagai diagnosa keperawatan pada kasus.

Faktor pendukung dalam menegakkan diagnosa keperawatan yaitu data-data yang ditemukan cukup menunjang untuk menegakkan diagnosa tersebut seperti data hasil observasi terhadap klien, dan data subyektif yang diungkapkan klien serta berdasarkan rekam medik. Penulis juga bekerja sama dengan klien untuk menentukan masalah keperawatan yang menurut klien paling menggangu dan menjadi prioritas sehingga harus diatasi terlebih dahulu. Dalam menegakkan diagnosa keperawatan penulis tidak menemukan faktor penghambat.

C.  Perencanaan Keperawatan
Pada rencana keperawatan, tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Pada teori, diagnosa keperawatan yang menjadi prioritas masalah adalah Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental, kelemahan upaya batuk buruk. Pada kasus diagnosa keperawatan yang menjadi prioritas utama yaitu, Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas dengan rencana tindakan seperti, berikan posisi fowler atau semifowler, ajarkan batuk efektif, anjurkan klien minum air hangat, lakukan fisioterapi dada, pantau pengeluaran dan karakteristik sekret, observasi suara napas, observasi tanda-tanda vital.

Kedua yaitu Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dengan rencana tindakan, anjurkan klien makan sedikit tapi sering, kaji makanan kesukaan dan makanan yang tidak disukai klien, berikan makanan kesukaan klien sebagai makanan tambahan, berikan makanan selagi hangat, pantau porsi makan klien, pantau BB klien.

Ketiga, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dengan rencana tindakan bantu klien dalam melakukan aktivitas yang tidak dapat klien lakukan sendiri, secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi, motivasi klien dalam melakukan aktivitas secara mandiri, observasi respon klien.

Keempat, Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi dengan rencana tindakan, anjurkan klien menjaga kebersihan, anjurkan klien menggunakan masker, anjurkan klien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu dan menghindari meludah, kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat, dorong untuk mengulangi demonstrasi, anjurkan klien membuang dahak pada air yang mengalir, observasi TTV.

Semua diagnosa ini dilakukan dengan prioritas masalah, tujuan dan kriteria hasil sama dengan kasus yaitu SMART dalam perencanaannya seperti tujuan harus spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, secara rasional dapat dipertanggung jawabkan dan terdapat waktu dalam menentukan apakah tujuan tercapai atau tidak.

Faktor pendukung dalam menyusun rencana tindakan adalah klien yang sangat kooperatif sehingga penulis dapat menegakkan diagnosa yang sesuai dengan kondisi klien dan menentukan prioritas diagnosa yang menurut klien paling menggangu serta harus diatasi terlebih dahulu, adapun juga tersedia literatur yang cukup memadai. Penulis tidak menemukan adanya faktor penghambat dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.


D.  Pelaksanaan Keperawatan
Pada tahap pelaksanaan keperawatan ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. Semua rencana telah dilakukan semua sesuai dengan rencana tindakan secara Independent Intervention, Dependent Intervention (colaboration), Delegate yaitu pelaksanaan tugas (order) dapat didelegasikan, dan  Record, seluruh hasil tindakan yang telah dilaksanakan oleh perawat harus dicatat dengan baik, yang bertujuan untuk mendokumentasikan semua tindakan keperawatan yang telah diberikan. Sedangkan pada kasus di ruangan semua rencana keperawatan dapat di laksanakan, tetapi sebagian dari rencana keperawatan berkesinambungan selama 24 jam maka dari itu perlu didelegasikan ke perawat ruangan selanjutnya.

Faktor pendukung dalam melaksanakan pelaksanaan keperawatan adalah klien dan keluarga yang sangat kooperatif dan kerjasama yang baik. Sedangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan ini adalah keterbatasannya waktu berdinas di ruangan dengan waktu 3x24 jam dari beberapa rencana yang ada belum dapat teratasi. Dan solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu perawat mendelegasikan rencana keperawatan yang belum dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

E.  Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi, terdapat 2 (dua) jenis evaluasi yaitu, Evaluasi Formatif ialah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir implementasi (RH) dan Evaluasi Sumatif ialah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu  (SOAP). Semua diagnosa keperawatan yang terdiri dari 4 (empat) diagnose yang belum teratasi yaitu Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas, rencana tindak lanjut yaitu berikan posisi fowler atau semifowler, lakukan fisioterapi dada, pantau pengeluaran dan karakteristik sekret, observasi suara napas, observasi tanda-tanda vital, berikan terapi inhalasi Ventolin 3 x 1, Flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22, berikan terapi Ambroxol syr.

Kedua adalah Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, rencana tindak lanjut yaitu berikan makanan kesukaan klien sebagai makanan tambahan, pantau porsi makan klien, pantau BB klien, berikan klien diit TKTP.

Ketiga adalah Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, rencana tindak lanjut yaitu bantu klien dalam melakukan aktivitas yang tidak dapat klien lakukan sendiri, secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi, motivasi klien dalam melakukan aktivitas secara mandiri.

Keempat adalah resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi, rencana tindak lanjut yaitu anjurkan klien menjaga kebersihan, anjurkan klien menggunakan masker, anjurkan klien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu dan menghindari meludah, observasi TTV, berikan terapi Ceftriaxone 1 x 2gram, berikan terapi Rifampicin 1 x 450mg, berikan terapi Ethambutol 1 x 1250mg.

Empat diagnosa yang belum teratasi dikarenakan masih terdapatnya data klien lemas, batuk berdahak, terdapat sekret berwarna hijau, konsistensi kental, nafsu makan klien menurun, aktivitas klien dibantu keluarga dan perawat.

Faktor pendukung dalam melakukan asuhan keperawatan sehingga dapat melakukan evaluasi adalah klien dan keluarga yang sangat kooperatif, kerja sama yang baik antara klien  dengan perawat ruangan serta tersedia literatur yang diperlukan. Tidak ditemukan adanya faktor penghambat dalam melakukan evaluasi keperawatan.











BAB V
PENUTUP

Kesimpulan yang dibuat pada BAB V berdasarkan pembahasan kasus yang ditulis di Pembahasan meliputi Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Perencanaan keperawatan, Pelaksanaan keperawatan, dan Evaluasi.

A.  Kesimpulan
     Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn. R maka ditarik kesimpulan penyebabnya karena klien tinggal satu rumah dengan orang yang terkena TB Paru. Tanda dan gejala pada kasus, yaitu batuk berdahak sejak 2 bulan yang lalu, sesak napas, penurunan berat badan, kelemahan fisik, berkeringan banyak terutama di malam hari.

Diagnosa keperawatan yang ada pada kasus ada 4 (empat) yaitu, Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas, Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi.

Tahap perncanaan sesuai dengan SMART seperti, tujuan harus spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, secara rasional dapat dipertanggung jawabkan dan terdapat waktu dalam menentukan apakah tujuan tercapai atau tidak. Dan didokumentasikan dalam pelaksanaan, perencanaan yang ada dilakukan semua sesuai dengan rencana.

Tahap evaluasi, dari diagnosa keperawatan pada kasus ada 4 (empat), dimana keempatnya belum teratasi yaitu Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret pada jalan napas, rencana tindak lanjut yaitu berikan posisi fowler atau semifowler, lakukan fisioterapi dada, pantau pengeluaran dan karakteristik sekret, observasi suara napas, observasi tanda-tanda vital, berikan terapi inhalasi Ventolin 3 x 1, Flexotide 2 x 1 pada jam 06, 14, 22, berikan terapi Ambroxol syr. Kedua adalah Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, rencana tindak lanjut yaitu berikan makanan kesukaan klien sebagai makanan tambahan, pantau porsi makan klien, pantau BB klien, berikan klien diit TKTP. Ketiga adalah Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, rencana tindak lanjut yaitu bantu klien dalam melakukan aktivitas yang tidak dapat klien lakukan sendiri, secara bertahap tingkatkan aktivitas harian klien sesuai peningkatan toleransi, motivasi klien dalam melakukan aktivitas secara mandiri. Keempat adalah resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya proses inflamasi, rencana tindak lanjut yaitu anjurkan klien menjaga kebersihan, anjurkan klien menggunakan masker, anjurkan klien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu dan menghindari meludah, observasi TTV, berikan terapi Ceftriaxone 1 x 2gram, berikan terapi Rifampicin 1 x 450mg, berikan terapi Ethambutol 1 x 1250mg.

B.  Saran
Untuk Mahasiswa/ i
Agar lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkam asuhan keperawatan pada klien khususnya pada klien dengan Tuberculosis Paru di ruang perawatan.
















DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Crofton, John. 2002. Pedoman Penanggulangan TB. Jakarta : Widya Medika

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan TB.
Jakarta

Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan. Edisi ketiga. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta : FKUI

Price, A. Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi keenam.
Jakarta : EGC

Smelter, Suzanne C dan Brenca G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi ke
satu dan dua. Jakarta : EGC




Tidak ada komentar:

Posting Komentar