ibu kenapa kau harus pergi?
ibu tau gak sepi rumah gak ada ibu?
ibu aku kangen pengen cerita sama ibu
ibu banyak hal yang pengen aku tau tapi gtau harus tanya siapa
ibu kenapa di rumah ini harus ada penggantimu?
ibu kenapa semuanya berubah?
ibu aku sudah tambah besar tapi kenapa slalu terasa anak kecil?
ibu kenapa setelah kau pergi jadi terasa kurang kasih sayang?
ibu kenapa bapak berubah sekarang?
ibu taukah kau setidaknya sekarang kami sudah berkumpul kembali dengan sunyi?
ibu aku kangen masakanmu
ibu kangen suara ngajimu di pagi hari
ibu aku rindu suara marah mu
ibu ternyata berat tanpa engkau
ibu aku bingung memilih yang terbaik untukku
ibu aku kekurangan teman sharing terbaik
ibu mengapa disini menjadi kotor?
ibu mengapa disini terasa asing padahal di rumahku sendiri
ibu mengapa mereka sering bertengkar?
ibu aku rindu bapak yang dulu
ibu mengapa kami terpisah?
ibu mengapa kita terpisah?
ibu akankah aku bertemu denganmu lagi?
ibu aku lelah menghadapi cobaan hidup
ibu boleh aku menyusulmu?
ibu adakah orang yang akan mendampingiku, menerimaku apa adanya?
ibu sesak dada ini terkadang
ibu aku kangen nangis dipelukanmu
ibu aku rindu rambutku dibelai olehmu
ibu aku ingin mendengar ceritamu lagi
ibu mengapa mereka bercerita seperti itu tentangmu?
ibu benarkah kau seperti itu?
ibu akankah keluarga ini bahagia seperti dulu kembali?
ibu akankah kelak keluargaku seperti ini?
ibu maafkan aku yang tlah membuatmu menangis
ibu maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu
ibu maafkan aku yang tidak bisa membanggakanmu
ibu maafkan aku yang penuh akan dosa
ibu maafkan aku yang tidak bisa berbakti kepadamu
ibu aku tau cintamu begitu besar untukku
ibu tidak ada orang yang sebanding denganmu
ibu bolehkah aku bertemu denganmu di setiap mimpiku?
ibu bisakah aku ngobrol lagi denganmu?
ibu akankah pertanyaan di otakku yang setiap detik muncul terjawab?
ibu aku rindu engkau
ibu smoga kita bertemu kembali
ibu mengapa aku terjebak di bidang ini?
ibu kau slalu bilang aku boleh sekolah dimana saja
ibu kau slalu beri aku semangat
ibu kau yang slalu membangkitkanku di saat aku jatuh
ibu, aku rindu ibu
ibu kapan kita ketemu lagi?
ibu doakan aku menjadi anak yang engkau inginkan
ibu cintamu tak akan aku sia kan
ibu andai aku mati akankah kita bersama?
ibu semoga engkau berada di sisi Allah
ibu tak sabar aku bertemu kembali denganku
ibu andai engkau bisa, bolehkah kau mengajakku
ibu terasa berat dsini
ibu begitu banyak hal yang ingin ku ungkapkan
ibu mengapa banyak yang bertanya padaku tapi tak bisa ku jawab?
ibu mengapa aku bodoh?
ibu mengapa aku diam?
ibu mengapa aku tidak menjadi anak baik?
ibu....
Jumat, 01 Agustus 2014
puisi tuk ibu
Selasa, 08 Juli 2014
PROPOSAL TAK
A.
TOPIK :
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK BERFOKUS PADA SOSIALISASI
Terapi aktifitas
kelompok ( TAK ) : sosialisasi ( TAKS ) adalah upaya memfasilitasi kemampuan
sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. ( Dr.Budi Anna
Keliat,S.Kp,M.App.Sc dan Akemat,S.Kp,M.Kep, 2004 ).
B. TUJUAN :
- Tujuan Umum
Membantu
klien meningkatkan kemampuan untuk berhubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
- Tujuan Khusus
a.
Klien mampu
meningkatkan kemampuan komunikasi verbal
b.
Klien mampu
memperkenalkan diri
c.
Klien mampu berkenalan
dengan anggota kelompok
d.
Klien mampu
bercakap-cakap dengan anggota kelompok
e.
Klien mampu
menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
f.
Klien mampu bekerja
sama dalam permainan sosialisasi kelompok
g.
Klien mampu
menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK yang telah dilakukan
C.
LATAR BELAKANG
Berdasarkan hasil
observasi selama bertugas di R-Utari
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi serta berdasarkan hasil angket klien kelolaan
didapatkan mayoritas klien
mempunyai masalah utama Harga Diri
Rendah (6 dari 10 klien kelolaan) berdampak ke Isolasi Sosial. Dari fenomena
tersebut kelompok tertarik untuk melakukan terapi aktivitas kelompok dengan topik Isolasi Sosial.
D.
LANDASAN TEORI
Setiap
individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai
tingkat hubungan yaitu dari hubungan intim biasa sampai hubungan saling
ketergantungan. Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapi dan
mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari. Individu tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial
Kepuasan
berhubungan dapat dicapai jika individu dapat terlibat secara aktif dalam
proses berhubungan. Peran serta yang tinggi dalam berhubungan disertai respon
lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama, hubungan
timbal balik yang sinkron.
Pada
dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh
kembang individu mulai dari bayi sampai dengan dewasa lanjut. Untuk
mengembangkan hubungan sosial yang positif, setiap tugas perkembangan sepanjang
daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses.
Pemutusan
proses berhubungan terkait erat dengan ketidak puasan individu terhadap proses
hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta, respon lingkungan yang
negatif. kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya diri dan keinginan
untuk menghindar dari orang lain
E.
KRITERIA KLIEN
- Klien menarik diri yang cukup kooperatif
- Klien yang sulit mengungkapkan perasaannya
melalui komunikasi verbal
- Klien dengan gangguan menarik diri yang telah
dapat berinteraksi dengan orang lain
- Klien dengan kondisi fisik yang dalam keadaan
sehat (tidak sedang mengidap penyakit fisik tertentu)
- Klien halusinasi yang sudah dapat mengontrol
halusinasinya
- Klien dengan riwayat marah/amuk yang sudah tenang
F.
PROSES SELEKSI
- Berdasarkan kriteria klien yang telah ditetapkan.
- Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai
prilaku klien shari-hari dan kemungkinan dapat dilakukan terapi aktifitas
kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan.
- Melakukan kontrak dengan klien untuk mengikuti
aktifitas yang akan dilaksanakan serta menanyakan kesediaannya.
- Menetapkan bersama klien dan perawat ruangan
tentang topik, waktu dan tempat kegiatan.
G.
URAIAN STRUKTUR KELOMPOK
- Hari /Tanggal :
Selasa, 22 Mei 2012
- Tempat :
Di Ruang Utari Rumah Sakit Marzoeki
Mahdi
- Waktu :
09.00 – 10.00 WIB
- Lama Kegiatan
-
Perkenalan dan pengarahan (5 menit)
-
Role play (10 menit)
-
Permainan dan diskusi (25 menit)
-
Evaluasi (15 menit)
-
Penutup (5 menit)
- Jumlah peserta :
33 orang
- Perilaku yang diharapkan dari kelompok klien
a.
Klien dapat melakukan permainan
b.
Klien dapat memberikan pendapat/komentar dari
permainan
c.
Klien dapat berperan aktif dalam kelompok dengan cara
mengungkapkan pengalamannya dan memberikan dukungan kepada klien lain
d.
Klien dapat mengontrol emosinya selama kegiatan
berlangsung
e.
Klien tidak meninggalkan kelompok pada saat permainan
f.
Klien dapat
menunjukkan kekompakkan dalam kelompok pada saat permainan
H.
PENGORGANISASIAN
Leader : Sylvi ambar ningrum
Co-Leader :
Windy Rianti
Fasilitator :
Sahnaz Sandi Alifha
Sri Agustiani
Tuti Nurleni
Tarsina wati
Vini Safitri
Yuliana
Observer :
Siti Aspiyah
Sri
Agustiani
I.
METODE DAN MEDIA
Metode : Role Play dan Diskusi
Media : Tape Recorder , Kaset Dangdut, Bola,
Kursi
J.
URAIAN PEMBAGIAN TUGAS
- Leader
a.
Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi
aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai
b.
Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok
dan memperkenalkan dirinya
c.
Mampu memimpin
terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib
d.
Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam
kelompok
e.
Menjelaskan permainan
- Co-Leader
a.
Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader
tentang aktifitas klien
b.
Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
- Fasilitator
a.
Memfasilitasi klien yang kurang aktif
b.
Berperan sebagai role play bagi klien selama kegiatan
- Observer
a.
Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b.
Mencatat prilaku verbal dan non verbal klien selama
kegiatan berlangsung
c.
Mengatur alur permainan (menghidupkan dan mematikan
tape recorder)
K.
PROSES PELAKSANAAN
- Perkenalan dan pengarahan
a.
Mempersiapkan lingkungan : suasana tenang dan nyaman
(tidak ribut)
b.
Mempersiapkan tempat : pengaturan posisi tempat duduk,
leader berdiri di depan dan berkomunikasi dengan seluruh anggota kelompok
c.
Mempersiapkan anggota kelompok : membuat kontrak
kembali dengan klien untuk mengikuti terapi aktifitas kelompok sosialisasi
- Pembukaan
a.
Leader memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama,
asal dan tempat tinggal
b.
Leader menjelaskan tujuan terapi aktifitas kelompok
sosialisasi
c.
Membuat kontrak waktu dengan klien dan lamanya
permainan berlangsung
d.
Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok
antara lain : jika klien ingin ke kamar mandi atau toilet harus minta ijin
kepada leader, bila ingin menjawab pertanyaan klien diminta untuk mengacungkan
tangan dan diharapkan klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
- Role play
Permainan
dimulai dengan bermain peran oleh fasilitator sesuai petunjuk leader selama 10 menit. Setelah itu observer menghidupkan tape
recorder dan memulai permainan, semua fasilitator duduk di kursi. Selama musik masih berbunyi para
fasilitator mengedarkan bola dari
fasilitator satu ke fasilitator berikutnya. Bagi fasilitator yang memegang bola pada saat musik dihentikan, fasilitator diminta untuk
memperkenalkan diri, dan menyampaikan hobby yang
paling disukai. Peserta lain yang menjadi pegangan fasilitator
juga memperkenalkan diri dan hobbinya.
- Permainan
Satu klien diminta untuk memasukkan pensil ke dalam
botol aqua per kelompok yang tersedia sampai
ditemukan juara 1, 2, 3.
- Evaluasi
a.
Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah melakukan
permainan
b.
Klien dapat menyebutkan keuntungan dari permainan
tersebut
c.
Klien dapat mengungkapkan usul atau pendapat dari
kegiatan permainan
- Penutup
a.
Leader menyampaikan apa yang telah dicapai anggota
kelompok setelah mengikuti permainan
b.
Perawat memberikan reinforcement positif pada setiap
klien yang mengikuti permainan
L.
ANTISIPASI MASALAH
- Klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok
penanganannya adalah dengan memberikan motivasi oleh fasilitator
- Bila klien meninggalkan permainan tanpa ijin,
panggil nama klien, tanyakan alasan klien meninggalkan permainan, berikan
motivasi agar klien kembali mengikuti permainan
- Klien lain yang ingin mengikuti permainan, beri
penjelasan pada klien tersebut bahwa permainan ini ditujukan pada klien
yang dipilih, katakan pada klien lain tersebut bahwa akan ada waktu khusus
untuk mereka
M. DENAH
RUANG
![]() |
|||
|
|||
N.
KRITERIA EVALUASI
- Evaluasi Input
a.
Tim berjumlah 10 orang yang
terdiri atas 1 leader, 1 co leader, 6
fasilitator dan 2 observer
b.
Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik
c.
Peralatan tape recorder dan kaset dangdut berfungsi
dengan baik
d.
Tersedia bola, kursi, paku, botol aqua dan tali rafiah
e.
Tim, tidak ada
kesulitan memilih klien yang sesuai dengan kriteria dan karakteristik klien
untuk melakukan terapi aktifitas kelompok sosialisasi
- Evaluasi Proses
a.
Leader menjelaskan aturan main dengan jelas
b.
Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien
c.
Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan
untuk dapat mengawasi jalannnya permainan
d.
70% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti
kegiatan dengan aktif dari awal sampai selesai.
- Evaluasi Output
Setelah
mengadakan terapi aktifitas kelompok sosialisasi dengan 6 kelompok yang diamati, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
a.
70% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif dari
awal sampai selesai.
b. 70% klien dapat meningkatkan komunikasi non verbal
: bergerak mengikuti intruksi, ekpresi wajah cerah, berani kontak mata)
c. 70% klien dapat meningkatkan komunikasi verbal
(menyapa klien lain/perawat, mengungkapkan perasaan dengan perawat)
d. 70% klien dapat meningkatkan kemampuan akan
kegiatan kelompok (mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai)
e. 70% klien mampu melakukan hubungan sosial dengan
lingkungannya (mau berinteraksi dengan perawat/klien lain)
DAFTAR PUSTAKA
Keliat, Budi Anna, 2004. Keperawatan
Jiwa : Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta : EGC
Stuart, Gail W, 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5, alih bahasa : Ramona P Kapoh, Egi Komara Yudha. Jakarta : EGC
KGD FRAKTUR SINISTRA
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA TN. Y
DENGAN OPEN FRAKTUR
FEMUR SINISTRA
DI UNIT GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT
ANGKATAN LAUT Dr. MINTOHARDJO

Disusun Oleh:
Nilasari Sidik
11048
AKADEMI KEPERAWATAN HANG TUAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR
Dengan puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
pada Tn. Y dengan Open Fraktur Femur Sinistra di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit
Angkatan Laut Dr. Mintohardjo” selesai tepat pada waktunya.
Dalam penulis makalah ini penulis banyak menemukan hambatan namun berkat
adanya bimbingan dan arahan akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Direktur Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta, Kolonel Laut
(K/W) Rita Wismajuwani, SKM, MAP
2.
Pudir III Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta, Ns. Sugeng
Haryono, S.Kep. selaku pembimbing dan penguji.
3.
Dosen beserta staf Akademi Keperawatan Hang Tuah Jakarta yang
telah memberikan bimbingannya.
4.
Kedua orang tua dan keluarga besar yang senantiasa memberikan
dukungan material maupun spiritual.
5.
Seluruh Mahasiswa/I Angkatan XVI dan semua pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan,
oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah
ini berguna bagi penulis dan pembaca pada umumnya serta dapat menjadi bahan
acuan yang bermanfaat di kemudian hari.
Jakarta, Juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
TINJAUAN TEORI
A.
Pengertian
Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Smeltzer dan Bare,
2002).
Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya disebabkan adanya kekerasan yang timbul secara mendadak. Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung maupun trauma tidak langsung. (Paula Krisanty, dkk.)
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 2005:543)
B.
Etiologi
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung
menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian
demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau
miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung
menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan.
Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan
otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan,
penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
4. Fraktur patologik yaitu
fraktur yang terjadi pada tulang disebabkan oleh melelehnya struktur tulang
akibat proses patologik. Proses patologik dapat disebabkan oleh kurangnya
zat-zat nutrisi seperti vitamin D, kaslsium, fosfor, ferum. Factor lain yang
menyebabkan proses patologik adalah akibat dari proses penyembuhan yang lambat
pada penyembuhan fraktur atau dapat terjadi akibat keganasan.
C.
Patofisiologi
Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods
(1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah,
sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi
perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan
hematom pada kanal medulla antara tepi tulang di bawah periostinum dengan jaringan
tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi
jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit.
Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk
memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang.
Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang
yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk ke
dalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian
menstimulasi histamine pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma
hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema
yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa
menyebabkan syndrome compartement.
(Musliha, 2010)
D.
Klasifikasi Fraktur
Berikut terdapat beberapa klasifikasi fraktur sebagaimana
yang dikemukakan oleh para ahli :
1. Menurut Depkes RI (1995),
berdasarkan luas dan garis fraktur meliputi :
a. Fraktur komplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas
sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari
satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks.
b. Fraktur inkomplit
Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis
patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks
yang utuh).
2. Menurut Black dan Matassarin
(1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi :
a. Fraktur tertutup yaitu
fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak menonjol
melalui kulit.
b. Fraktur terbuka yaitu fraktur
yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka
fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka terbagi menjadi 3
grade yaitu :
1) Grade I : Robekan kulit
dengan kerusakan kulit otot
2) Grade II : Seperti grade I
dengan memar kulit dan otot
3) Grade III : Luka sebesar 6 –
8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf otot dan kulit.
3. Long (1996) membagi fraktur
berdasarkan garis patah tulang, yaitu :
a. Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada
anak-anak dengan tulang lembek
b. Transverse yaitu patah
melintang
c. Longitudinal yaitu patah
memanjang
d. Oblique yaitu garis patah
miring
e. Spiral yaitu patah melingkar
4. Black dan Matassarin (1993)
mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu :
a. Tidak ada dislokasi
b. Adanya dislokasi, yang
dibedakan menjadi :
1) Dislokasi at axim yaitu
membentuk sudut
2) Dislokasi at lotus yaitu
fragmen tulang menjauh
3) Dislokasi at longitudinal
yaitu berjauhan memanjang
4) Dislokasi at lotuscum
controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek
(Musliha, 2010)
E.
Gambaran Klinik
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur adalah
sebagai berikut :
1. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah
terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan
tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
2. Bengkak /edema
Edema muncul lebih cepat dikarenakan
cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasasi daerah di
jaringan sekitarnya.
3. Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit
sebagai akibat dari extravasasi daerah di jaringan sekitarnya.
4. Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter
yang terjadi di sekitar fraktur.
5. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf,
terkenanya syaraf karena edema.
6. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang
yang fraktur, nyeri atau spasme otot. Paralysis dapat terjadi karena kerusakan
syaraf.
7. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjdi pada
bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi
pada fraktur tulang panjang.
8. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang
terjadi jika bagian-bagian tulang digerakkan.
9. Deformitas
Abnormalnya posisi dari
tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang
mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan
bentuk normalnya.
10. Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai
kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
11. Gambaran X-ray menentukan
fraktur
Gambaran ini akan menentukan lokasi
dan tipe fraktur.
F.
Komplikasi
Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut
Doenges (2000) antara lain:
1. Shock
2. Infeksi
3. Nekrosis divaskuler
4. Cedera vaskuler dan saraf
5. Mal union
6. Borok akibat tekanan
G.
Penatalaksanaan Kedaruratan
1. Inspeksi bagian tubuh yang
fraktur
a. Inspeksi adanya laserasi,
bengkak dan deformitas
b. Observasi angulasi,
pemendekan dan rotasi
c. Palpasi nadi distal untuk
fraktur dan pulsasi semua perifer
d. Kaji suhu dingin, pemucatan,
penurunan sensasi atau tidak adanya pulsasi; hal tersebut menandakan cedera
pada saraf atau suplai darah terganggu
e. Tangani bagian tubuh dengan
lembut dan sesedikit mungkin gerakan yang kemungkinan dapat menyebabkan gerakan
pada tulang yang fraktur
2. Berikan bebat sebelum klien
dipindahkan; bebat dapat mengurangi nyeri, memperbaiki sirkulasi, mencegah
cedera lebih lanjut, dan mencegah fraktur tertutup menjadi fraktur terbuka.
a. Imobilisasi sendi diatas dan
dibawah daerah fraktur. Tempatkan satu tangan distal terhadap fraktur dan
berikan satu penarikan ketika menempatkan tangan lain diatas fraktur untuk
menyokong.
b. Pembebatan diberikan
diberikan meluas sampai sendi dekat fraktur.
c. Periksa status vaskuler ekstremitas
setelah pembebatan; periksa warna, suhu, nadi dan pemucatan kuku.
d. Kaji untuk adanya deficit
neurologi yang disebabkan oleh fraktur.
e. Berikan balutan steril pada
fraktur terbuka.
3. Kaji adanya keluhan nyeri
atau tekanan pada area yang mengalami
cedera.
4. Pindahkan klien secara
hati-hati dan lembut, untuk meminimalisasi gerakan yang dapat menyebabkan
gerakan pada patahan tulang.
5. Lakukan penanganan pada
trauma yang spesifik
Trauma Femur
Femur biasanya patah pada sepertiga
tengah, walaupun pada orang tua selalu dipikirkan patah pangkal tulang paha (collum femoris). Fraktur ini dapat
menjadi fraktur terbuka dan kalau hal ini terjadi harus ditangani sebagai
fraktur terbuka. Banyak otot disekeliling femur dan perdarahan massif dapat
terjadi pada paha. Fraktur femur bilateral dapat menyebabkan kehilangan sampai
dari 50% volume sirkulasi darah.
(Paula Kristanty, 2009)
H.
Pengkajian
1. Pengkajian primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan
sekret akibat kelemahan reflek batuk.
b. Breathing
Kelemahan menelan/batuk/melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan/atau tak teratur, suara napas terdengar
rochi/aspirasi.
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardia, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membrane mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
2. Pengkajian sekunder
a. Aktivitas/istirahat
1) Kehilangan fungsi pad bagian
yang terkena
2) Keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi
1) Hipertensi (kadang terlihat
sebgai respon nyeri/ansietas)
2) Hipotensi (respon terhadap
kehilangan darah)
3) Tachikardia
4) Penurunan nadi pada bagian
distal yang cedera
5) Capillary refill melambat
6) Pucat pada bagian yang
terkena
7) Masa hematoma pada sisi
cedera
c. Neurosensori
1) Kesemutan
2) Deformitas, krepitasi,
pemendekan
3) Kelemahan
d. Kenyamanan
1) Nyeri tiba-tiba saat cedera
2) Spasme/kram otot
e. Keamanan
1) Laserasi kulit
2) Perdarahan
3) Perubahan warna
4) Pembengkakan lokal
(Musliha, 2010)
I.
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan
berhubungan dengan diskontinuitas tulang
2. Gangguan rasa nyaman; nyeri
berhubungan dengan adanya robekan jaringan pada area fraktur
3. Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan fraktur dan nyeri
4. Kerusakan integritas jaringan
berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan
J.
Rencana Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan
berhubungan dengan diskontinuitas tulang
Tujuan : gangguan perfusi jaringan
dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
a. Meningkatkan perfusi jaringan
b. Tingkat kesadaran
composmentis
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital tiap 2
jam
b. Observasi dan periska bagian
yang terlukan atau cedera
c. Kaji kapilari refill tiap 2
jam
d. Kaji adanya tanda-tanda
gangguan perfusi jaringan; keringat dingin pada ekstremitas bawah, kulit
sianosis, baal
e. Amati dan catat pulsasi
pembuluh darah dan sensasi (NVD) sebelum dan sesudah manipulasi dan pemasangan
splinting.
f. Luruskan persendian dengan
hati-hati dan seluruh splint harus terpasang dengan baik.
2. Gangguan rasa nyaman; nyeri
berhubungan dengan adanya robekan jaringan pada area fraktur
Tujuan : nyeri berkurang setelah
dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
a. Klien menyatakan nyeri
berkurang
b. Rampak rileks, mampu
berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
c. Tekanan darah normal
d. Tidak ada peningkatan nadi
Intervensi :
a. Kaji rasa nyeri pada area di
sektiar fraktur
b. Atur posisi klien sesuai
kondisi, untuk fraktur ekstremitas bawah sebaiknya posisi kaki lebih tinggi
dari badan
c. Ajarkan relaksasi untuk
mengurangi nyeri
d. Kaji tanda-tanda vital tiap 2
jam
e. Berikan terapi analgetik
untuk mengurangi nyeri
3. Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan fraktur dan nyeri
Tujuan : kerusakan mobilitas fisik
dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
a. Meningkatkan mobilitas pada
tingakt paling tinggi yang mungkin
b. Mempertahankan posisi
fungsional
c. Meningkatkan kekuatan/fungsi
yang sakit
d. Menunjukkan teknik mampu
melakukan aktivitas
Intervensi :
a. Pertahankan tirah baring
dalam posisi yang diprogramkan
b. Tinggikan ekstremitas yang
sakit
c. Instruksikan klien/bantu dalam
latihan rentang gerak pada ekstremitas yang sakit dan tak sakit
d. Beri penyangga pada
ekstremitas yang sakit di atas dan di bawah fraktur ketika bergerak
e. Jelaskan pandangan dan
keterbatasan dalam aktivitas
f. Berikan dorongan ada pasien
untuk melakukan AKS dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai
kebutuhan. Awasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas
g. Ubah posisi secara periodic
h. Kolaborasi fisioterapi/okuasi
terapi
4. Kerusakan integritas jaringan
berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan
Tujuan : kerusakan integritas
jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil :
a. Penyembuhan luka sesuai waktu
b. Tidak ada laserasi,
integritas kulit baik
Intervensi :
a. Kaji ulang integritas luka
dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainage
b. Monitor suhu tubuh
c. Lakukan perawatan kulit
dengan sering pada patah tulang yang menonjol
d. Lakukan alih posisi dengan
sering, pertahankan kesejajaran tubuh
e. Pertahankan sprei tempat
tidur tetap kering dan bebas kerutan
f. Massage kulit sekitar akhir
gips dengan alkohol
g. Gunakan tempat tidur busa
atau kasur udara sesuai indikasi
h. Kolaborasi pemberian
antibiotic
(Musliha, 2010 dan Paula
Krisanty, 2009)
BAB II
TINJAUAN KASUS
A.
Identitas Mahasiswa
Nama Mahasiswa : Nilasari Sidik Tanggal
Pengkajian : 05 April 2014
Tingkat : III
Triage : Gawat Darurat
B.
Identitas Pasien
Nama Pasien/Usia :
Tn Y/28 tahun
No Register :
098765
Tanggal Masuk :
05 April 2014
Nama Dokter :
dr. E
Diagnosa Medis :
Open Fraktur Femur Sinistra
Data diambil dari :
Klien
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan :
Karyawan swasta
Pangkat/Golongan :
Tidak ada Nrp/Nip : tidak ada
Alamat :
Gg. Saidin No. 83 Pamulang No Tlp :
0856 9591 2029
Keluhan Masuk : Dengan open fraktur sinistra, terdapat pendarahan
300cc,
klien tampak nyeri kesakitan,
klien tampak lemas
Kategori Triage : Gawat Darurat
C.
Patoflow Gadar
(terlampir)
D.
Pengkajian
1.
Airway
Tidak terdapat sumbatan pada jalan napas
2.
Breathing
Inspeksi :
Frekuensi napas : 20x/menit, teratur, tidak terdapat
batuk, nafas tidak sesak, tidak menggunakan otot bantu pernapasan
Auskultasi :
Bunyi napas vesikuler, pola napas teratur
Perkusi :
Suara sonor
Palpasi :
Vocal Fremitus positif, tidak terdapat nyeri
3. Circulation
Suhu 37,5ºC, Tekanan darah
100/70 mmHg, MAP 80, Nadi 100 x/menit, nadi kuat, turgor kulit baik, mata
cekung, tidak ada sianosis, capillary refill < 3 detik, ekstremitas dingin,
tidak ada mual muntah, terjadi perdarahan 300 cc melalui pembuluh darah arteri
yang terdapat pada femur.
Masalah keperawatan yang
timbul yaitu kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan,
resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan, nyeri berhubungan dengan
adanya fraktur.
Pemeriksaan penunjang
a.
Laboratorium
Darah rutin : Hb 14,6 g/dl, Eritrosit 4,7µL, Leukosit 11.000
g/dl
b.
Radiologi
Dilakukan pemeriksaan rontgen pada femur sinistra
4.
Disability
|
5 5
5 5
|
5 5
5 5
|
|
5 5 5 0
|
5 5
5 5
|
Pupil anisokor, reflek cahaya
positif, keadaan umum klien sedang, GCS : M 6, V 5, E 4, kekuatan otot
menurun
5.
Eksposure & Emosi
Tidak terdapat luka / jejas
pada daerah klafikula keatas, dada, abdomen. Terdapat luka open fraktur femur
sinistra. Keadaan emosional klien gelisah.
6.
Folley Katter
Klien
tidak terpasang Katter dan NGT
E.
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi syok
hipovolemik berhubungan dengan adanya perdarahan
2. Kurang volume cairan
berhubungan dengan adanya perdarahan
3. Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan adanya fraktur
4. Gangguan mobillitas fisik
berhubungan dengan adanya fraktur
F.
Rencana KGD
1. Anjurkan klien tirah baring
2. Observasi TTV
3. Klem arteri (menghentikan
perdarahan)
4. Lakukan perawatan luka dengan
NaCl
5. Pertahankan imobilisasi
6. Pasang infus RL 1 : 3 cc atau
loss
7. Lakukan pembidaian
8. Berikan antibiotik
Ceftriaxone 1 x 1 gr melalui IV
9. Berikan injeksi TT 1 cc
melalui IM
10. Berikan analgetik ketorolac
60 mg drip RL
11. Lakukan pemeriksaan darah
lengkap
12. Lakukan pemeriksaan rontgen
13. Konsul dokter ortopedik
G.
Tindakan KGD
1. Menganjurkan klien tirah
baring
2. Melakukan klem pada pembuluh
darah arteri di femur untuk menghentikan perdarahan
3. Memasang infus RL loss
4. Melakukan observasi TTV : TD
100/70 mmHg, N : 100 x/menit, S : 37,5ºC, RR 20 x.menit
5. Membersihkan luka dengan NaCl
dan prinsip steril (tidak dilakukan hecting)
6. Melakukan pembidaian melewati
dua sendi
7. Menganjurkan klien
pertahankan imobilisasi
8. Memberikan injeksi
Ceftriaxone 1 x 1 gram melalui IV
9. Memberikan injeksi TT 1 cc
melalui IM
10. Memberikan obat ketorolac 60
mg drip
11. Melakukan pemeriksaan darah
lengkap
12. Melakukan pemeriksaan rontgen
13. Melaporkan keadaan klien pada
dokter ortopedik
H.
Evaluasi KGD
S : Klien mengatakan nyeri pada paha kirinya
Klien mengatakan skala nyeri 7
O : Klien tampak lemas
Klien tampak pucat
Klien terpasang bidai
Klien terpasang infus RL + ketorolac
A :
Tujuan tercapai, masalah belum teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan
Going
to Rujuk RS lain
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan yang dibuat pada BAB III berdasarkan tinjauan
teori dan tinjauan kasus.
A.
Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan keperawatan
pada Tn. Y maka ditarik kesimpulan penyebabnya karena klien mengalami
kecelakaan kemudian datang ke UDG RSAL Dr. Mintohardjo dengan keluhan terdapat
pendarahan 300cc, klien tampak nyeri kesakitan, klien tampak lemas.
Diagnosa keperawatan yang ada pada
kasus ada 4 (empat) yaitu, Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan
adanya perdarahan, Kurang volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan,
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya fraktur, Gangguan
mobillitas fisik berhubungan dengan adanya fraktur.
Tahap perencanaan sesuai dengan rencana
keperawatan gawat darurat, seperti primary survey, airway, breathing,
circulation, disability, exposure, folley catether, dan going to. Dan
didokumentasikan dalam pelaksanaan, perencanaan yang ada dilakukan semua sesuai
dengan rencana.
Tahap evaluasi, dari diagnosa
keperawatan pada kasus ada 4 (empat), dimana keempatnya belum teratasi yaitu Resiko
tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan adanya perdarahan, Kurang volume
cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan adanya fraktur, Gangguan mobillitas fisik berhubungan dengan
adanya fraktur. Rencana tindak lanjut dilakukan di ruangan.
B. Saran
Untuk Mahasiswa/ i
Agar lebih meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan dalam menerapkam asuhan keperawatan gawat darurat pada klien
khususnya pada klien dengan Open Fraktur Femur Sinistra.
DAFTAR PUSTAKA
Krisanty. Paula,
dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Paula Krisanty.
Jakarta:
EGC
Lewis, dkk. 2006. Asuhan
Keperawatan. Jakarta: EGC
Musliha. 2009. Perawatan Gawat
Darurat. Jakarta: EGC
Suzanne, Smeltzer C dan Brenda G. Bare. 2002. Fundamental Keperawatan. Jakarta:
EGC
Patoflow
Langganan:
Postingan (Atom)
