Minggu, 12 Januari 2014

Buku Usangku

aku pernah mempunyai beberapa buku sebelumnya. tapi buku-buku itu tidak mempunyai keistimewaan seperti buku usang yang aku miliki sekarang. buku-buku yang pernah mengisi dan menemani hariku. tapi beberapa buku itu habis begitu saja. tidak banyak aku menulis didalamnya, mungkin aku bosan sehingga tak ada buku yang lama menemaniku menunggu ceritaku didalamnya. mustahil dengan sifat bosanku ini, aku tahan berlama-lama dengan satu buku. tapi, hey, itu aku yang dulu. ada satu buku yang sampai sekarang sudah menemaniku selama beberapa tahun. buku yang kini sudah mulai usang. buku yang selalu setia menungguku untuk menulis sebuah cerita di dalamnya. buku yang hanya tertulis satu nama.
temanku pernah berkata, "Nil, gue aja udah 6x tutup buku dan udah gue kubur tuh buku dalem-dalem. sedangkan lo satu buku aja gak kelar-kelar". kamu tau kenapa aku gak pernah bisa menyelesaikan buku ini? selalu aku tanyakan kapan aku bisa mengganti buku usang itu dengan yang baru. tapi jawabannya selalu nihil. pernah sesekali aku tinggalkan buku usang itu begitu saja, dan aku mulai melirik pada buku baru. tapi, selagi aku melirik buku baru, kulihat setiap lembarannya dan covernya. tidak ada yang semenarik bukuku. tidak ada yang sekuat bukuku. buku baru itu gampang robek dan cepat sekali habis lembarannya. sedangkan bukuku memiliki kertas yang tebal, dan selalu mempunyai halaman kosong untuk kutulis.
aku tau buku itu slalu menungguku menulisnya walaupun aku sibuk dengan pekerjaanku dan teman-temanku. aku pernah sengaja meninggalkannya selama hampir setahun dan membiarkan warna kertasnya menguning menjadi usang. tapi buku itu tetap setia menungguku, menunggu ceritaku, menunggu aku datang padanya. aku tau buku itu cemburu, cemas dan khawatir padaku. ia ingin aku segera menghampirinya dan bercerita padanya. sungguh, betapa egoisnya aku.
sudah kamu dapatkan alasan kenapa aku belum pernah atau tidak pernah mengganti buku usangku dengan buku baru? ya, karna buku baru itu tidak semenarik buku usangku. buku baru itu tidak sekokoh buku usangku.
tapi tetap saja selalu ada perasaanku yang ingin menyudahi buku usang itu. terlalu lama aku biarkan buku itu menemaniku. aku takut lama kelamaan kertasnya yang sudah menguning menjadi robek. aku tidak pernah mau merusaknya.
buku, bolehkah aku menyudahi ceritaku padamu? bolehkah aku hanya menyimpanmu sebagai kenangan, dan boleh kulihat sesekali ketika aku rindu? bolehkah aku menguburmu seperti temanku yang dapat mengubur bukunya? walaupun aku takut aku tidak akan pernah menemukan buku istimewa seperti kamu.
mungkin aku akan menyesal telah menguburmu. tapi aku tidak pernah menyesal telah menulis kisahku di dalammu. terimakasih buku telah menerima semua ceritaku, semua keluh kesahku, semua keegoisanku. terimakasih Tuhan telah memperjodohkan aku dengan buku tersebut sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar